KABAR FIKKIA – Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat. Pengabdian masyarakat bertajuk “Budidaya Ikan Lele intensif, sistem Akuaponik” ini dilaksanakan pada Sabtu (14/09/24) di Dusun Rejopuro, Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tujuan agenda pengmas ini yaitu sosialisasi pengembangan konsep budidaya akuaponik dan RAS (Recirculating Aquaculture System) sebagai teknologi ramah lingkungan.
Prayogo S.Pi., M.P, Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat menjelaskan bahwa akuaponik merupakan teknologi yang menjanjikan. Namun dalam pelaksanaan teknisnya masih terdapat kekeliruan. Harapannya pengmas ini dapat menjadi meningkatkan kualitas budidaya ikan, serta memberi produk sampingan berupa sayuran. Dalam pengabdian masyarakat yang dimulai pada bulan Maret hingga Oktober 2024 tersebut. Rejopuro dinilai sebagai lokasi yang potensial untuk mengembangkan teknologi ini, sebab banyak warga pelaku budidaya. Sumber daya air bersih yang melimpah menambah daya dukung budidaya berjalan optimal.
Integrasi akuaponik dan RAS (Recirculating Aquaculture System)
Akuaponik merupakan sistem yang menggabungkan budidaya ikan dengan hidroponik. Dengan penambahan teknologi RAS, sistem ini menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Teknologi akuaponik yang diintegrasikan dengan Recirculating Aquaculture Systems (RAS) dalam pengmas ini dikembangkan dengan adanya penambahan peran bakteri nitrifikasi.
“Akuaponik telah banyak dipraktekkan. Kami menggunakan RAS dan pemanfaatan bakteri nitrifikasi yang berperan dalam pengubahan amonia hingga menjadi nitrat. Nitrat ini lah yang membuat tanaman dapat tumbuh dengan baik” jelas ketua pelaksana tersebut.

Manajemen Kualitas Air
Dalam kegiatan pengmas tersebut, Prayogo S.Pi., M.P., mendemonstrasikan profil kualitas air dari sistem yang ia kenalkan. Dosen Divisi Sistem dan Teknologi Akuakultur FIKKIA UNAIR tersebut menunjukkan bahwa hasil pengukuran amonia dan nitrit rendah. Sedangkan untuk pengukuran nitrat menunjukkan hasil yang tinggi. Setiap minggunya dilakukan pengecekan Amonia, pH, nitrit dan nitrat untuk mempertahankan kondisi optimal perairan tersebut.
Manajemen Pakan
Pakan yang digunakan yaitu 781-1 karena dinilai memenuhi kebutuhan nutrisi ikan lele (Clarias sp.) dan mempercepat pertumbuhan. Pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi 2 kali dalam sehari. Pada awal budidaya, pakan diberikan dengan tekstur lunak (dicampur dengan air).
Pengmas ini disambut sangat baik oleh Kelompok Pembudidaya Ikan Rejopuro, POKDAKAN Sumber Bening.
“Teknologi ini sangat menarik. Saya berharap dari kegiatan ini ada kerjasama lebih lanjut dari UNAIR bersama dengan kelompok kami. Kami butuh sekali bimbingan akademisi yang seperti ini”. Ungkap Joko Suwarno, salah satu aktivis POKDAKAN Sumber Bening.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-14 Life Below Water dan ke-17 Partnership for the Goals
Penulis: Syarifatul Jamil
Editor: Avicena C. Nisa
