FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Dari Masa Ke Masa, Kereta Api Alternatif Transportasi Ternak dan Bahan Pangan Asal Hewan

28 September merupakan peringatan hari kereta api nasional. Menelusuri benang sejarah tahun 1945, pada hari itu pejuang kemerdekaan telah dapat merebut kembali Kantor Pusat Kereta Api Bandung dari tangan Jepang. Pengambilalihan operasional kuda besi telah menjadi cikal bakal pendirian operator perkeretaapian nasional. Perusahaan tersebut kini bernama PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang menjadi bagian dari lembaga Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PT KAI telah melalui berbagai perubahan nama mulai dari Djawatan Kereta Api (DKA), Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA), PT. Kereta Api (Persero) hingga ditetapkan menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Kini layanan yang diunggulkan oleh PT.KAI seperti pengangkutan penumpang yang cepat, nyaman, dan aman. Terkenal dalam pengangkutan manusia dan barang, ternyata pernah ada layanan kereta api di Indonesia yang berfungsi sebagai transportasi ternak antar wilayah di Pulau Jawa.

Gerbong Khusus Ternak di Tahun 60an

Pada tahun 1964, Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA) mendatangkan gerbong khusus angkutan ternak (tipe VR atau VVW). Salah satu layanan transportasi ternak pada jalur Stasiun Kandangan, Kota Surabaya hingga Stasiun Cipinang, Kota Jakarta Timur. Jejaknya masih terlihat jelas dari bentuk emplasemen bangunan Stasiun Kandangan yang berada di wilayah barat Kota Surabaya. Stasiun ini dulunya pernah melayani proses bongkar muat angkutan hewan ternak yaitu sapi. Bahkan Stasiun Kandangan juga memiliki jalur khusus ternak menuju Balai karantina Hewan milik Kementerian Pertanian Republik Indonesia di sisi selatan yang telah tak terpakai kembali. Pada rute Jakarta-Surabaya, angkutan ternak berbasis ban karet hanya mengandalkan jalan nasional pantai utara Pulau Jawa yang menjadi bagian jalan Anyer-Panarukan. Pengemudi seringkali menemui simpul kemacetan yang menimbulkan keterlambatan kedatangan ternak sampai ke tujuan. Perjalanan panjang tersebutlah yang mengakibatkan stres pada ternak dan menurunkan nilai animal welfare pada proses pengangkutan. Dehidrasi dan keterbatasan gerak juga mengakibatkan ternak mengalami penurunan kesehatan.

Baca juga: Susu Ikan : Polemik Produk Pangan yang Sebenarnya Bukan Susu

Pada era itu, ternak sapi yang menggunakan kereta api mirip dengan transportasi ternak menggunakan truk. Satu gerbong ternak dapat memuat beberapa ekor sapi. Keunggulannya adalah satu rangkaian kereta api dapat memiliki stamformasi susunan dari 1-2 lokomotif dengan puluhan gerbong ternak. Tentu hal tersebut sangat efisien mengingat pada periode pemerintahan Presiden Soeharto belum terdapat jalan tol lintas jawa yang menghubungkan kota-kota besar baik di utara maupun selatan. Penggunaan kereta api dalam pengangkutan ternak juga dapat membuat hewan menjadi nyaman untuk beristirahat maupun makan dan minum. Kekurangan terbesar dari angkutan ternak kereta api pada masa tersebut adalah tetap ada rasa yang tidak nyaman bagi ternak dalam perjalanan. Keadaan jalur kereta api dengan susunan bogie lawas dan rel kereta api berukuran kecil (Belum R42 dan diperkirakan masih R33). Hal tersebut membuat perjalanan kereta api memiliki kecepatan yang rendah dan gampang terjadi guncangan.

Rangkaian gerbong kereta api pengangkut ternak di Queensland, Australia.
Sumber: https://www.beefcentral.com/

Hingga kini, meredupnya layanan ternak menggunakan roda besi belum menemui masa kebangkitan kembali. Direktorat Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pernah menginisiasi ulang kehadiran transportasi ternak yang telah menjadi karkas pada tahun 2013. Desain gerbong dengan pendingin khusus juga telah dipersiapkan. Tetapi hingga saat ini belum ada realisasi dari rencana tersebut. Kehadiran layanan kargo di perkeretaapian Indonesia juga turut membangkitkan gairah transportasi bagi hewan. Terbukti telah banyak pengiriman hewan peliharaan maupun ternak kecil menggunakan layanan kargo. Dalam gerbong yang berwarna khas hijau maupun stasiun, penumpang kereta api acap kali menemui kucing dan anjing dalam kandang yang sedang dikirim. Tak hanya hewan domestik jenis itu saja, unggas seperti Daily Old Chicken (DOC), Daily Old Duck (DOD) maupun ayam dan bebek dewasa juga sering dikirim dengan moda kereta.

Jika gerbong kargo terangkai dengan layanan kereta api penumpang. Maka perusahaan kereta api harus melakukan peningkatan pengawasan terhadap kesehatan hewan. Karena terdapat beberapa penyakit zoonosis yang mungkin dapat bertransmisi melalui udara maupun sentuhan yang tak disengaja. Baik itu rabies maupun flu burung. Dengan pengguna publik yang mencapai jutaan orang tiap tahunnya, perlu ada langkah preventif untuk mencegah penyebaran dari hewan ke penumpang maupun sebaliknya. Kolaborasi antara perusahaan dan otoritas veteriner dalam melakukan skrining kesehatan hewan dapat menjadi langkah jitu. Perusahaan juga harus menerapkan prasyarat tertentu untuk hewan yang akan diangkut, seperti:

Penerapan Syarat Vaksin Wajib bagi Hewan Peliharaan

World Organisation for Animal Health (WOAH) telah merekomendasikan beberapa vaksin wajib berbeda bagi hewan tertentu. Vaksin dapat melindungi dan mengurangi penyebaran hewan dari patogen spesifik dalam transportasi. Kewajiban paling utama saat ini adalah screening terkait vaksinasi rabies yang masih endemik di beberapa wilayah. Pulau Jawa sendiri memiliki masih endemik rabies di Wilayah Kabupaten Sukabumi yang juga memiliki jaringan rel kereta api yang terhubung antar daerah.

Penerapan Surat Sehat bagi Hewan yang Dikirimkan Menggunakan Kereta Api

Penegakan pengawasan hewan antar daerah sangat penting dalam memetakan pergerakan hewan. Penyertaan surat sehat yang diterbitkan oleh dokter hewan dapat menjadi salah satu syarat perjalanan untuk memastikan hewan memiliki potensi penyebaran infeksi yang minim.

Kandang yang Tepat

Dalam menjaga prinsip animal welfare selama perjalanan menggunakan kereta api, pengirim perlu menggunakan kandang yang cukup untuk hewan bergerak. Sehingga hewan tak merasa terhimpit dan mengalami stres berlebihan. Jangan menggunakan pet cargo yang minim lubang udara dan sama dengan ukuran tubuh hewan.

Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *