KABAR FIKKIA – Alumni Back to Campus kembali diadakan oleh Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi pada Jumat (04/10/2024). Kuliah Tamu mengundang Owner Pembenihan Kerapu UD. Kerapu Berkah Melimpah Situbondo. Alumni akuakultur 2017 Arief Fitra Andriawan, S.Pi hadir berbagi ilmu tentang pembenihan ikan kerapu. Acara tersebut diikuti oleh 45 mahasiswa semester 3 dan 5 di ruang G202 Kampus Giri.

Prayogo, S.Pi., M.P. Ketua Departemen FIKKIA membuka sambutan dihadapan peserta yang hadir. Menurutnya, Banyuwangi sebagai kabupaten wilayah pesisir menjadikan budidaya kerapu sangat potensial dilakukan. Ia menambahkan Prodi Akuakultur FIKKIA sedang membangun fasilitas Marine Station akan semakin menunjang pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman mahasiswa di bidang budidaya air laut (marikultur).
Persiapan Pra Pembenihan Kerapu
Ikan kerapu cantang merupakan hasil persilangan genetika antara 2 spesies kerapu. Kerapu macan sebagai induk betina dan kerapu kertang sebagai induk jantan. Perlu dilakukan pembersihan bak pemeliharaan sebelum melakukan pemijahan benih, agar steril dan bebas dari penyakit. Bahan kimia klorin digunakan untuk membersihkan kotoran pada dinding bak, pencucian dengan sabun untuk menghilangkan sisa klorin dan pengeringan. Proses sterilisasi bak menggunakan produk SanoCare dan diberi oksigen aerasi dengan durasi 3-4 jam.
Tahapan Pembenihan Ikan Kerapu
Telur ikan kerapu cantang perlu diaklimatisasi terlebih dahulu dengan meletakkan plastik berisi air dan telur ke dalam bak pemeliharaan. Hal ini berguna agar telur dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Telur yang sudah ditebar akan menetas setelah 18-22 jam. Setelah menetas, benih kerapu akan melewati fase kritis. Tahapan dimana larva menjadi sangat sensitif sehingga perlu perhatian dan perlakuan ekstra.
Fase kritis dibagi menjadi 4 tahapan, yaitu fase kritis 1, fase kritis 2, fase kritis 3, dan fase kritis 4. Pada fase kritis ini, benih memerlukan pakan dan nutrisi yang cukup seperti fitoplankton jenis Rotifera sp. Organ akan semakin terlihat dengan selesainya masa fase kritis. Pemeliharaan benih akan dilakukan setelah melewati fase kritis, di antaranya monitoring kualitas air dan pakan, serta pengendalian hama dan penyakit. Namun, kendala dalam pembenihan kerapu cantang adalah banyaknya kematian sehingga tingkat kelulushidupan / Survival Rate (SR) menjadi sangat rendah.
Kuliah tamu ini juga menarik antusias mahasiswa. Dikki, mahasiswa semester 5 membuka diskusi tentang cara meningkatkan SR pada benih kerapu cantang.
“Memang SR ikan kerapu sangatlah rendah, bahkan di bawah 50% dan sering berada di 30%. Saya sudah mencoba beberapa alternatif yang saat ini sedang saya teliti, yaitu penggunaan rebon sebagai tambahan pakan dan obat. Pemberian rebon dilakukan pada malam hari untuk mencegah kanibalisme.” pungkasnya.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-17 Partnership for the Goal
Penulis: Syarifatul Jamil
Editor: Avicena C. Nisa
