FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Baju Adat Semarakkan Sumpah Pemuda FIKKIA UNAIR

KABAR FIKKIA – Peringatan Sumpah Pemuda pada Senin (28/10/2024) memberikan warna yang berbeda di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi. Tampak berbeda, tenaga pendidikan tak menggunakan baju dinas yang secara reguler terlihat. Tenaga pendidikan di kampus Giri, Sobo, dan Mojo tampak mengenakan busana adat. Masing-masing menggunakan baju adat berbeda yang tampak elegan menemani aktivitas bekerja.

Gelora Semangat Muda dan Multikultural

96 Tahun Sumpah Pemuda, Maju Bersama Indonesia Raya terus menggelorakan semangat kaum muda untuk terus berkarya. Semangat muda dan multikulturalisme memanggil generasi muda menghayati dan merayakan identitas mereka. Bukan untuk membanggakan suku sendiri, namun membuktikan kebanggaan multikulturalisme adalah jembatan yang menghubungkan berbagai latar belakang dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.

Pemenang Baju Adat Terbaik

Tenaga pendidik juga wajib mengikuti lomba foto baju adat dari Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Airlangga. Mereka menampilkan foto dengan pose terbaik di media sosial pribadi. Terdapat tiga tenaga pendidik yang mendapatkan predikat foto terbaik dari tiap fakultas, sekolah, maupun lembaga yaitu:

  1. Yoesron Firdany (Koordinator Sarana Prasarana). Sosok yang sering disapa Yusron itu tampak memakai baju adat khas Jawa Tengah berupa baju lurik berwarna coklat, berjarik, dan berblangkon. Layaknya mas-mas jawa di sebelah kandang ayam hias, sudut pengambilan foto memiliki keunikan tersendiri yang tampak serasi dengan pakaiannya.
  1. Efa Wahyuni Pertiwi, S.Pi. (Administrasi Akademik Prodi Akuakultur). Baju khas Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu amarasi tampak apik dikenakan di depan kampus GIri FIKKIA Banyuwangi. Terlihat pakaian adat Suku Rote yang identik dengan kain tenun ikat, hingga mahkota emas bulan sabit untuk aksesoris wanita.
  1. Achmad Burhanuddin (Administrasi Sarana Prasarana Sobo). Pakaian adat Madura bernama Pesa’an yang melekat pada badan dengan menarik untuk ditengok. Tampak garang dan elegan, pakaian tersebut melambangkan kesederhanaan, keterbukaan, kebanggaan akan identitas, dan nilai-nilai sosial. Pesa’an menjadi simbol nyata dari kepribadian dan karakter masyarakat Madura.
Dari kiri: Pemenang foto terbaik Yoesron, Efa, Burhanuddin. Sumber: UKIP FIKKIA

Pakaian adat mengingatkan kita bahwa Sumpah Pemuda 2024 adalah panggilan untuk bersatu, merangkul keberagaman, dan menciptakan masa depan yang lebih cerah. Dalam setiap helaian kain yang melambai, tersimpan harapan bahwa semangat muda akan terus menyala, memupuk rasa saling menghormati dan memahami antarbudaya. Baju adat yang dikenakan bukan hanya sebuah simbol, tetapi juga wujud nyata dari komitmen generasi muda untuk terus melestarikan kekayaan budaya Indonesia.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *