KABAR FIKKIA – Swine and Ruminant Care (SRC) HMKH telah menggelar kuliah tamu dengan tema Lumpy Skin Disease (LSD) sebagai emerging disease. 95 mahasiswa Kedokteran Hewan meghadiri kuliah tamu pada Minggu (10/11/2024 secara daring via Zoom. Acara ini menghadirkan narasumber ahli, drh. Chendi Herdiawan. Beliau merupakan pejabat otoritas veteriner dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bondowoso. LSD baru baru ini viral dikalangan peternak sapi. Di Indonesia, LSD dikenal dengan sebutan penyakit lato-lato.
Mengenal Lumpy Skin Disease (LSD)
Berdasarkan penjelasan, drh. Chendi LSD mulai masuk Indonesia awal tahun 2022. Di tahun tersebut pemerintah menetapkan LSD sebagai penyakit emerging. Definisi penyakit emerging adalah penyakit infeksi yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Sedangkan re-emerging adalah penyakit lama yang kembali muncul. Lumpy Skin Disease (LSD) merupakan penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) yang merupakan virus bermateri genetik DNA dari Genus Caprivovirus dan famili Poxviridae.

LSD umum disebut dengan penyakit lato-lato. Penyakit menyerang hewan ternak seperti sapi dan kerbau yang sangat merugikan secara ekonomi. Terutama karena kemunculannya berdekatan dengan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Penularan LSD dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor utama penyebarannya adalah transportasi hewan.
“Tugas kita sebagai dokter hewan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat agar transportasi hewan lebih aman dan tidak menjadi penyebab penularan sporadis”. Tegasnya.
Sejarah dan Dampak LSD pada Produksi Peternakan
Drh. Chendi juga menjelaskan sejarah penyebaran LSD dan dampaknya terhadap sektor peternakan. LSD pertama kali muncul di Zambia pada 1929, hingga 1940 penyakit ini menyebar dengan cepat di seluruh daratan Afrika. Setelah itu pada tahun 2000, penyakit ini masuk ke negara- negara timur tengah. Pertama kali penyakit ini masuk ke Indonesia pada tahun 2022 di Provinsi Riau.

Penyakit ini menyebabkan metabolisme hewan yang terinfeksi tidak dapat kembali lagi seperti saat sehat. Pertumbuhan menjadi tidak optimal karena masalah metabolisme. Sapi lokal jenis Peranakan Ongole (PO), diketahui lebih tahan terhadap LSD dibandingkan sapi jenis limosin dan simental, dibuktikan dengan kasus infeksi yang lebih sedikit pada sapi PO.
Setelah pemaparan materi, sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar strategi pengendalian LSD, teknik diagnosis, hingga peran dokter hewan dalam edukasi masyarakat. Dua mahasiswa yang paling aktif dalam sesi tanya jawab, yaitu Ryan Adi (Akt. 2023) dan Fatimah Azahra (Akt. 2023) menerima penghargaan sebagai apresiasi atas partisipasi mereka. Agenda kuliah tamu diharapkan mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi dalam menangani penyakit emerging seperti LSD serta semakin siap berkontribusi di lapangan.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-17 Partnership for the Goals dan ke 15 – Life on Land.
Penulis: Hanifa Khansa Khairunnisa
Editor: Avicena C. Nisa
