FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Peserta WUACD Nikmati Keindahan Alam dan Budaya Banyuwangi

KABAR FIKKIA – Hari ketujuh program WUACD International Student Mobility in Community Development yang diselenggarakan Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universiti Malaysia Terengganu (UMT) pada Selasa (12/11/2024), mengajak peserta untuk mengenal lebih dekat kegiatan kemaritiman di Bangsring Underwater, Banyuwangi.

Dalam sesi materi, Habib Fasya S.Pi, M.P., dosen Akuakultur FIKKIA UNAIR, menjelaskan tentang pentingnya transplantasi terumbu karang. Ia menyampaikan bahwa transplantasi dilakukan dengan cara mengambil fragmen karang yang sehat dari koloni hidup atau yang terlepas secara alami. Kemudian menempelkannya pada substrat buatan seperti rakit atau beton. Fragmen-fragmen ini lalu ditempatkan di dasar laut yang memiliki kondisi lingkungan mendukung, seperti arus air yang cukup kuat dan cahaya yang diperlukan untuk fotosintesis. Proses ini bertujuan untuk memantau pertumbuhan karang dan menjaga keseimbangan ekosistem laut. Fasya juga menekankan bahwa pertumbuhan terumbu karang sangat lambat, hanya sekitar 1 cm per tahun, sehingga menjaga kelestariannya memerlukan perhatian bersama.

Proses transplantasi terumbu karang dipandu pengelola Bangsring Underwater. Foto: WUACD

Snorkeling dan Keindahan Alam Bawah Laut Banyuwangi

Selain itu, Fasya memperkenalkan beragam jenis ikan yang hidup di kawasan Bangsring Underwater, termasuk ikan nemo dan ikan dori. Setelah sesi materi, peserta dibagi dalam enam kelompok untuk melakukan snorkeling, didampingi pemandu wisata. Di bawah laut, mereka menyaksikan ikan-ikan dan terumbu karang yang menakjubkan. Keberadaan patung Gandrung di dasar laut menjadi daya tarik utama, memberikan kesan yang mendalam bagi peserta.

Kegiatan snorkling di depan rumah apung. Foto: WUACD

“Snorkeling kali ini sangat seru! Ikan-ikannya tidak takut didekati, dan melihat patung Gandrung serta keindahan trumbukarang membuat pengalaman ini tak terlupakan,” ungkap Praishayna Bala Krishnam, mahasiswa Analytical and Environmental Chemistry UMT.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi shark clinic di Bangsring Underwater, di mana peserta bisa menyaksikan ikan-ikan hiu yang menggemaskan. Interaksi langsung dengan makhluk laut ini menjadi pengalaman langka dan tak terlupakan bagi mereka.

Pendopo Sabha Swagata Blambangan: Belajar Sejarah Banyuwangi

Perjalanan hari itu berlanjut ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan, tempat bersejarah di Banyuwangi. Di sini, mahasiswa UMT diberikan wawasan tentang sejarah dan budaya lokal. Pendopo ini merupakan tempat penting untuk interaksi antara Bupati dan masyarakat. Salah satu daya tarik utama adalah Sumur Sritanjung yang terletak di bagian timur belakang pendopo. Legenda Banyuwangi mengatakan sumur ini dapat mengeluarkan aroma wangi pada malam tertentu, dan airnya dipercaya memiliki khasiat untuk membuat seseorang terlihat lebih muda dan cantik.

Berfoto di depan rumah adat Suku Osing Banyuwangi. Foto: WUACD

“Banyuwangi ini keren sekali! Legenda dan tempat seperti ini sangat menarik. Pendoponya juga estetik, membuat belajar di sini menjadi menyenangkan,” kata Syaza Herlina, mahasiswa Akuntansi UMT.

Kegiatan hari ketujuh ini memberikan pengalaman berharga bagi peserta, tidak hanya dalam hal pelestarian ekosistem laut, tetapi juga dalam memperdalam pemahaman tentang sejarah dan budaya Banyuwangi. Kolaborasi antara UNAIR dan UMT dalam program WUACD ini berhasil menciptakan momen edukasi yang inspiratif dan menyenangkan bagi semua peserta.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-14 Life Below Water dan ke-17 Partnership for the Goal

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *