FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Terobosan Pemijahan Massal Ikan Tiger Barb di Akuakultur Ornamental

KABAR FIKKIA – Temuan menarik berhasil diungkap melalui penelitian yang diterbitkan dalam Egyptian Journal of Aquatic Research. Dosen Prodi Akuakultur FIKKIA UNAIR bersama sejawat peneliti lain berhasil menemukan metode pemijahan ikan tiger barb (Puntius tetrazona) secara optimal. Teknik perendaman hormon Ovaprim kini menjadi solusi cerdas dalam mendorong pemijahan massal ikan tiger barb (Puntius tetrazona). Spesies ikan hias air tawar yang banyak diminati pasar global. Penelitian ini memberikan angin segar bagi dunia akuakultur ornamental, khususnya untuk meningkatkan produktivitas pembenihan ikan hias kecil seperti tiger barb.

Potensi Ekonomi di Balik Keindahan Tiger Barb

Ikan tiger barb, asli Indonesia, memiliki pesona tersendiri dengan pola tubuh yang unik dan menarik. Selain ditemukan di Sumatra dan Kalimantan, ikan ini juga tersebar di berbagai negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia. Keindahannya menjadikannya salah satu komoditas unggulan dalam pasar ikan hias global.

Namun, budidaya tiger barb bukan tanpa tantangan. Tingkat pemijahan yang rendah, kualitas telur yang buruk, hingga kelangsungan hidup larva yang minim sering menjadi kendala. Tantangan inilah yang mendorong pengembangan teknik inovatif, seperti penggunaan hormon sintetis Ovaprim, untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pembenihan.

Terdapat aspek yang harus diperhatikan, yakni pemeliharaan induk ikan, pemberian hormon Ovaprim, dan pengamatan parameter pemijahan. Sebanyak 30 betina dan 60 jantan ikan tiger barb dipisahkan selama tiga minggu. Pemisahan bertujuan untuk memastikan kematangan gonad, dengan kondisi optimal. Suhu air dipertahankan pada 25–28°C, pH air 6–7, dan kadar oksigen terlarut 5–8 ppm. Induk diberi pakan cacing darah beku dan larva nyamuk hidup sebanyak dua kali sehari hingga kenyang.

Peran Hormon Ovaprim

Hormon Ovaprim diberikan dengan metode perendaman dalam lima dosis berbeda pada ikan betina, mulai dari 0,0 hingga 2,0 mL/L, sementara ikan jantan menerima dosis setengah dari betina. Proses perendaman berlangsung selama dua jam. Diawali dengan perlakuan kejutan osmotik menggunakan larutan garam kasar untuk meningkatkan penyerapan hormon. Efektivitas teknik ini diuji dengan mengamati lima parameter utama, yaitu periode latensi (waktu dari akhir perendaman hingga pemijahan), jumlah telur yang dihasilkan, tingkat pembuahan (fertilization rate/FR), tingkat penetasan (hatching rate/HR), dan kelangsungan hidup larva (survival rate/SR).

Foto: ebay

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis Ovaprim 1,5 mL/L memberikan hasil terbaik. Periode latensi hanya 5,5 jam, jauh lebih singkat dibandingkan kontrol yang membutuhkan 16,3 jam. Jumlah telur yang dihasilkan mencapai 448 butir per betina, hampir dua kali lipat dibandingkan kontrol yang hanya 197 butir. Tingkat pembuahan mencapai 99%, tingkat penetasan mencapai 96%, dan kelangsungan hidup larva sebesar 95%, semuanya lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kontrol. Namun, dosis yang lebih tinggi atau lebih rendah dari 1,5 mL/L cenderung menurunkan efektivitas, menekankan pentingnya penggunaan dosis yang tepat untuk mencapai hasil optimal.

Mengapa Metode Ini Revolusioner?

Teknik perendaman hormon ini terbukti jauh lebih praktis dan minim stres dibandingkan metode injeksi, terutama untuk spesies kecil seperti tiger barb. Dengan prosedur yang lebih sederhana, metode ini memungkinkan pemijahan massal dengan hasil yang jauh lebih optimal. Selain itu, teknik ini memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan ekonomi, terutama dengan menjamin pasokan ikan hias yang stabil untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor. Pendekatan ini juga membuka peluang pengembangan metode pembenihan baru untuk spesies ikan lain yang memiliki kebutuhan serupa.

Penulis: Ryan Adi Taufiqurrahman

Editor: Avicena C. Nisa

Baca artikel lengkap di Mass induction of tiger barb (Puntius tetrazona) spawning via hormone immersion technique

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *