KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi melalui Program Studi Kedokteran Hewan kembali berikan sumbangsih bagi konservasi satwa liar. Kali ini, tim veterinarian FIKKIA mendapatkan kesempatan untuk memberikan layanan kesehatan hewan langka sitaan negara yaitu Binturong. Satwa asli indonesia dengan nama latin Arctictis binturong berhasil diamankan dari Desa Wonosobo, Kecamatan Srono oleh Damkar Kabupaten Banyuwangi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah V Banyuwangi. Satwa liar dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya kini telah aman berada di kantor BKSDA.
Proses Pemeriksaan
Pemeriksaan berlangsung pada Selasa (21/1/2025) bertempat di Balai BKSDA Wilayah 5 Banyuwangi, Jawa Timur. Dari pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, tim menemukan beberapa informasi penting untuk ditindaklanjuti. Binturong mengalami stres akibat situasi ramai sebelumnya membuat satwa terlihat trauma. Binturong dewasa tersebut berjenis kelamin betina dengan bobot mencapai lebih dari 15 Kg. Terdapat luka dengan diameter cukup panjang pada bagian inguinal. Tim menduga binturong telah dipelihara oleh masyarakat dengan cara dirantai di bagian tersebut hingga luka memiliki pola memanjang setengah lingkaran dan merusak kulit. Dugaan diperkuat melalui pemahaman hewan untuk menerima pemberian air menggunakan botol.

Dari hasil tersebut, tim Kedokteran Hewan FIKKIA bergegas melaksanakan tindakan penanganan melalui pembersihan luka, pembuangan jaringan mati, dan penjahitan. Pertimbangan menjaga keamanan dan kenyamanan bersama memutuskan tim melakukan anestesi umum terlebih dulu agar binturong dapat direstrain secara maksimal. Proses anestesi hingga perawatan luka tersebut memakan waktu hampir 4 jam oleh tim yang terdiri dari empat orang.

Temuan kesehatan lain adalah salah satu mata binturong juga mengalami kelainan yang diduga sebagai katarak. Tes Schirmer mendeteksi air mata dari mata kanan tersebut tidak mengalir secara maksimal. Sedangkan mata sebelahnya normal. Secara umum dari tes fluorescein tidak ditemukan ulserasi berarti pada mata. Selain memeriksa fisik binturong, tim juga melakukan pemeriksaan profil darah lengkap untuk mengetahui informasi hematologi lebih lanjut. Terakhir tim memberikan injeksi anti inflamasi dan vitamin untuk menjaga kesehatan pasca perawatan. Hingga kini tim kedokteran hewan FIKKIA terus berkoordinasi dengan BKSDA Wilayah V Banyuwangi untuk memantau kondisi kesehatan satwa asli Indonesia itu.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke 15 – Life on Land dan ke-17 Partnership for the Goals.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
