KABAR FIKKIA – Awal tahun 2025 dikejutkan dengan munculnya 18 ekor sapi positif PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) di Kota Malang. Mahasiswa PPDH FIKKIA UNAIR stase Kesehatan Masyarakat Veteriner (KMV) yang sedang magang di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang terlibat langsung dalam vaksinasi pencegahan PMK. Hal ini menjadi fokus utama untuk melaksanakan program penanggulangan virus PMK di Kota Malang yang berkelanjutan.
“Kegiatan rutin pencegahan dan pengendalian PMK di Kota Malang selain survei ke lapangan juga dilakukan vaksinasi, pembagian desinfektan, vitamin dan obat cacing, pemberian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) PMK kepada peternak” ujar drh. Anton Pramujiono selaku kepala bidang peternakan dan kesehatan hewan Dispangtan Kota Malang.

Sebanyak 200 dosis vaksin PMK untuk 200 ekor sapi di Kecamatan Blimbing, Kecamatan Sukun dan Kecamatan Kedungkandang berhasil diberikan.
Saat ditemui, Muhammad Ilham Habibi (PPDH 2024) mengatakan sudah 200 sapi tervaksin hingga Jumat (24/01/2025). “Vaksinasi dilakukan 4 kali di Januari ini, yakni tanggal 16, 20, 21 dan 24.” tambahnya
Vaksinasi PMK di Kota Malang menggunakan vaksin inaktif bantuan dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Vaksin ini diproduksi oleh Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma Surabaya bernama Aphthovet Pusvetma dengan kemasan per botol berisi 50 ml untuk 25 sapi. Vaksin PMK tersebut merupakan alokasi tahap 1 vaksin PMK 200 dosis untuk 200 sapi di Kota Malang yang didistribusikan melalui Disnak Provinsi Jatim.
Temuan Pola Gejala Baru
Salah satu peternak di Kecamatan Blimbing mengeluhkan bahwa sapi terjangkit PMK kali ini menunjukkan kejala berbeda disbanding kasus sebelumnya. Ternak mengalami penurunan nafsu makan, air liur berlebih dan lepuh – lepuh dengan jangka waktu berdekatan. Fenomena ini membuat peternak tersebut menduga adanya mutasi virus PMK sehingga mengambil tindakan cepat untuk dilakukan pemotongan paksa pada sapi yang bergejala PMK.
Munculnya gejala yang cepat tidak selalu diakibatkan oleh mutasi virus karena belum ada penelitian lebih lanjut.
“Hal ini bisa terjadi akibat kondisi daya tahan tubuh sapi yang kurang optimal akibat faktor nutrisi yang belum seimbang atau akibat dari musim hujan yang panjang di Kota Malang.” tanggapan drh. David Cahya Putra, medik veteriner muda di substansi kesehatan hewan bidang peternakan dan kesehatan hewan dispangtan Kota Malang.
Melalui keterlibatan mahasiswa PPDH FIKKIA UNAIR Gelombang I dalam program vaksinasi PMK ini, drh. Anton berharap agar selalu memperhatikan perkembangan terbaru terkait PMK baik dari peternak, rekan – rekan kolega maupun pihak pemerintah.
Dinas yang membidangi fungsi peternakan, terus mengikuti perkembangan. Tidak hanya PMK saja tetapi penyakit hewan menular lainnya seperti LSD (Lumpy Skin Disease), Brucellosis atau yang lainnya, baik yang bersifat zoonosis maupun tidak.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 Good Health and Well-Being , dan poin ke-15 Life on Land
Penulis: Fania Aulia Rahma
Editor: Avicena C. Nisa
