FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Aquculture for Sustainable Future : Cerita Alumni Akuakultur FIKKIA UNAIR Merambah Dunia Wirausaha

KABAR FIKKIA – Universitas Aairlangga (UNAIR) setiap tahunnya menghadirkan alumni berprestasi dari berbagai macam rumpun ilmu. Fakhriyyah salah satunya. Ia merupakan lulusan S-1 Akuakultur, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) angkatan 2019. Peran aktif Fakhriyyah selama menjadi mahasiswa menjadikannya sosok yang berani mengambil resiko untuk mendirikan usaha budidaya ikan nila yaitu iTawar.

Berdirinya iTawar berawal mula dari pekarangan rumah yang disulap menjadi kolam untuk budidaya Ikan Nila. Adanya dukungan keluarga untuk berwirausaha, membuat Fakhriyyah tertantang menghadirkan produk ikan nila yang tidak bau tanah, memiliki daging yang tebal dan sistem budidaya yang ramah lingkungan. Bagi pembaca yang mengiinginkan ikan nila segar dari kolam budidaya langsung saja DM di @itawar.id

Berdirinya iTawar

iTawar berdiri tahun 2023 setelah selesai menempuh gelar Sarjana Perikanan. Budidaya ikan menggunakan sistem RAS dan Bioflok masih jarang di terapkan oleh para pembudidaya. Dimana sistem ini jauh lebih efisien serta ramah lingkungan. Sejak masa perkuliahan pemuda Banyuwangi tersebut sudah tertarik pada kegiatan budidaya. Sehingga, ilmu yang di dapatkan selama berkuliah diimplementasikan dalam kegiatan wirausaha. iTawar yang berfokus pada budidaya ikan Nila Kekar.

Produk ikan nila marinasi kemasan pack dari iTawar. Sumber: Dokumentasi pribadi

Tak hanya menjual ikan segar, iTawar telah hadir dalam bentuk ikan frozen marinasi siap masak. Ia berencana membuat inovasi olahan yang lainnya. Saat ini distribusi penjualan ikan nila iTawar telah menjangkau pasar Banyuwangi, hingga daerah lainnya seperti Bali dan Jakarta.

Kombinasi Sistem RAS dan Bioflok

Saat ini iTawar menggunakan sistem budidaya RAS dan Bioflok. Terdapat 5 kolam dengan padat tebar 1000 ekor. Sistem RAS (Recirculating Aquaculture System) merupakan sistem budidaya ikan dimana air dalam kolam disirkulasi Kembali. Proses tersebut yang membuat kotoran ikan, sisa makanan, hasil efek samping dari kegiatan budidaya terkumpul dalam tangki pengendapan dan filtrasi. Setelah melalui tahapan tersebut, air kembali kedalam kolam.

Kolam ikan nila menggunakan sistem RAS dan bioflok. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Budidaya ikan menggunkan sistem RAS dan Bioflok menjadi lebih efisien. Kunci utama system ini adalah menjaga kualitas air sesuai kebutuhan budidaya. Hasil limbahnya juga tidak mencemari lingkungan sekitar.” ujar Fakhriyyah

Tantangan Budidaya Ikan Nila Kekar

Kendala yang dialami Fakhriyyah selama menjadi pembudidaya antara lain yaitu kurangnya pengadaan bibit yang berkualitas di Banyuwangi. Hingga saat ini, bibit ia peroleh dari pembudidaya Pasuruan. Perjalanan jauh seringkali membuat ikan stress bahkan mati. Selain itu harga pakan relatif mahal, sehingga system bioflok sangat mendukung ketersediaan pakan alami ikan.

Pemberian pakan di kolam budidaya iTawar. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Agar harga jual ikan nila kompetitif, aku jual langsung ke konsumen. Jadi penikmat ikan bisa dapet ikan segar langsung tanpa khawatir harus beli partai besar” tuturnya.

Pesan Fakhriyyah bagi semua mahasiswa akuakultur, agar jangan pernah takut mencoba hal baru. Menurutnya, Prodi Akuakultur memiliki peluang masa depan cerah dan peluang karir luas.

“Jika kita fokus dan konsisten, terutama dengan kombinasi teknologi modern dan semangat keberlanjutan, peluang sukses tuh sangat besar! Jadi semangat teman-teman”. Tutup Fakhriyyah

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-12 Responsible Consumption and Production dan ke-16 Life Below Water.

Penulis: Farah Novita

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *