KABAR FIKKIA – Pengalaman menarik terus didapatkan mahasiswa asing dari College of Veterinary Medicine, Central Mindanao University (CMU), Philippines saat menjalani On the Job Training (OJT) At FIKKIA 2025. Mereka menjajal secara langsung deteksi kebuntingan dini, diagnostik, dan rektal ruminansia besar saat memasuki stase reproduksi. Kegiatan berlangsung di Teaching Farm, Kampus Sobo pada Selasa (6/5/2025) dan Rabu (7/5/2025).
Pelajari Rektal Secara Mendalam
Dalam pelatihan awal, mahasiswa mempelajari berbagai teknik dasar dan lanjutan dalam bidang reproduksi hewan. Khususnya pemeriksaan kebuntingan melalui mekanisme palpasi rektal. Teknik itu berguna dalam memeriksa organ reproduksi melalui dinding rektum. Teknik tersebut juga menjadi keterampilan dasar yang wajib dikuasai oleh calon dokter hewan dalam manajemen reproduksi ternak. Semua peserta diberikan kesempatan langsung untuk mempraktikkan teknik rektal pada sapi di bawah supervisi dosen.

Melalui metode ini, mahasiswa dapat belajar mendeteksi kebuntingan dan menentukan fase siklus estrus. Sehingga dapat memperhitungkan waktu yang tepat dalam melaksanakan program inseminasi buatan dan manajemen reproduksi ternak. Rektal juga dapat meningkatkan kepekaan tangan dan pemahaman terhadap anatomi reproduksi. Sehingga dapat mengenali kelainan seperti infeksi atau gangguan reproduksi lainnya. Catatan penting yang harus senantiasa dipenuhi saat pelaksanaan rektal adalah kondisi kuku yang rapih dan pendek. Kuku yang panjang dapat membuat organ bagian dalam mengalami perlukaan yang mengakibatkan infeksi. Selain itu, pelaku rektal wajib memakai alat pelindung diri berupa sarung tangan plastik. Fungsi dari penggunaan glove untuk menghindari kontaminasi parasit pada bagian tangan perektal.
USG untuk Deteksi Kebuntingan Awal yang Lebih Akurat
Tak hanya itu, mereka juga diperkenalkan dengan penggunaan teknologi ultrasonografi (USG) sebagai metode penunjang dalam mendeteksi kebuntingan secara lebih akurat. Pemeriksaan menggunakan USG bersifat non-invasif dan memberikan hasil visual secara real-time. Dalam pelatihan ini, digunakan USG portable dengan probe linear yang cocok untuk pemeriksaan transrektal pada sapi, kambing, maupun domba. Probe ini dimasukkan melalui rektum, dan mahasiswa dapat langsung mengamati struktur organ reproduksi di monitor, termasuk rahim, ovarium, dan jika bunting, embrio atau janin dalam kantung kebuntingan.

Dari rektal yang telah dilakukan, mereka dapat membandingkan hasil palpasi dengan pencitraan visual, sehingga mampu memverifikasi keberadaan janin maupun kondisi ovarium secara lebih akurat. Dengan mengkombinasikan teknik palpasi rektal dan USG, mahasiswa dapat mengenali perubahan fisiologis secara manual dan didukung konfirmasi diagnosis melalui pencitraan. Pendekatan yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan membantu pengambilan keputusan dalam praktik klinis.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land, dan ke-17 Partnerships for the Goals
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
