KABAR FIKKIA – Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi kembali menggelar Studium Generale pada Kamis, (15/05/2025). Bertempat di Aula Kampus Mojo FIKKIA dan disiarkan secara daring (hybrid lecture), kegiatan ini mengangkat topik menarik seputar dunia kedokteran dalam pendakian gunung: “Mountaineering & Wilderness Medicine: A Practitioner’s Perspective.” Narasumber kali ini adalah dr. Reyner Valiant Tumbelaka, Sp.OT., M.Ked.Klin., seorang dokter spesialis ortopedi yang juga dikenal sebagai pendiri akun edukasi @dokterpendaki serta inisiator Indonesia Mountain Medicine Summit.
Pelajari Aspek Penting Kesehatan Saat Mendaki
Dalam studium generale ini, dr. Reyner membagikan pengalaman dan wawasan terkait tantangan medis yang kerap ditemui selama aktivitas pendakian. Terutama di lingkungan alam liar dengan kondisi ekstrem. Peserta diajak memahami berbagai aspek penting, mulai dari persyaratan fisik dan medis sebelum mendaki gunung, navigasi dasar, hingga tips manajemen risiko saat menghadapi bahaya baik subjektif (kecerobohan pribadi) maupun objektif (cuaca, hewan buas, kondisi alam).
Salah satu poin yang dibahas adalah tekanan udara dan kadar oksigen yang menurun di ketinggian, yang dapat menyebabkan gangguan seperti Acute Mountain Sickness (AMS) hingga edema paru. Proses aklimatisasi menjadi penting untuk mencegah komplikasi tersebut. Selain itu, dr. Reyner juga menyinggung Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) sebagai salah satu keluhan umum setelah pendakian berat.

Tak hanya itu, insiden yang melibatkan hewan buas seperti ular juga dikupas, termasuk solusi penanganan darurat dan strategi preventif. Pendaki juga harus memahami batasan tubuh, mengenali tanda kelelahan, serta mengantisipasi faktor kegagalan pendakian, baik karena logistik, cuaca, maupun kurangnya persiapan mental dan fisik.
WHO turut menjadi referensi dalam pemaparan dengan menyarankan minimal 300 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per minggu—pendakian gunung pun menjadi alternatif olahraga sekaligus rekreasi yang menyehatkan, asalkan dilakukan dengan persiapan matang.
Kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa FIKKIA, khususnya dalam membentuk kesadaran akan pentingnya kesehatan dan keselamatan dalam kegiatan luar ruangan. Pemahaman tentang kedokteran gunung dan survival skills juga membuka wawasan lintas disiplin yang relevan dengan dunia medis, terutama kedokteran komunitas dan emergensi.
Dengan antusiasme tinggi dari para peserta, kegiatan ini tidak hanya memperluas cakrawala keilmuan, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa yang tangguh, cakap, dan siap menghadapi tantangan di segala medan.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 Good Health and Well-Being
Penulis: Ibnu Sadidan Fil Iman
Editor: Avicena C. Nisa
