KABAR FIKKIA – Berani beda, Kedokteran FIKKIA UNAIR melakukan pengabdian masyarakat dan field trip berupa bakti sosial dalam rangka implementasi travel medicine dengan mengusung tema “ Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan bagi Pendaki Gunung Ijen”. Pendekatan langsung dilakukan kepada warga masyarakat, wisatawaan lokal dan mancanegara yang bersiap mendaki.
Bakti sosial berlangsung dua hari (30-31/05/2025) di perkemahan Paltuding, kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Terdapat 12 mahasiswa didampingi Kaprodi Kedokteran Muhammad Nazmuddin, dr, MSc dan dua dosen terlibat memberikan edukasi. Sosialisasi berkenaan dengan pentingnya mempersiapkan kesehatan sebelum pendakian dan melakukan pemeriksaan kesehatan setelah pendakian.
Edukasi diawali dengan memberikan borang berisi pertanyaan seputar pemahaman masyarakat yang hendak melakukan pendakian. Seperti penyakit bawaan, perbekalan, medan gunung yang akan dilewati, pakaian yang digunakan apakah sudah sesuai, hingga penanganan hipotermia jika terjadi selama pendakian.
Pemeriksaan kesehatan meliputi tekanan darah dan keluhan setelah melakukan pendakian. Hal ini menjadi penting karena kandungan oksigen didaerah dataran tinggi sangat rendah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan ritme jantung serta tekanan darah. Ditambah medan pendakian yang dilewati cukup menghabiskan banyak tenaga. Akibatnya, tidak sedikit pendaki yang mengeluh jantung berdebar kencang dan diiringi sesak nafas hingga pusing kepala usai pendakian.

Praktik lapang ke tempat wisata diterima baik oleh mahasiswa dan masyarakat yang berkegiatan di sana. Mahasiswa dapat berlatih keterampilan berkomunikasi, sedangkan masyarakat makin melek terhadap wawasan keselamatan dan keamanan pendakian.
”Kegiatan turun lapangan membantu mahasiswa melatih cara berkomunikasi dengan pasien. Sehingga kami bisa memahami, lebih humanis dan memberi layanan sebaik-baiknya,” Ujar Rafa Akmal (MED 2024)
Respon masyarakat sangat positif. Mereka aktif berdiskusi, bertanya, dan mencatat informasi penting selama edukasi berlangsung. Masyarakat berharap edukasi menjadi langkah awal dalam menekan angka kecelakaan pendakian yang disebabkan kurangnya persiapan dan kesehatan karena mengikuti tren.
“Pendaki dapat lebih mempersiapkan segala hal untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Edukasi yang disampaikan mahasiswa dapat dipraktikkan secara langsung. Harapannya dapat menurunkan angka kecelakaan dalam pendakian karena kurangnya persiapan,” tutur Rano pendaki Gunung Ijen asal Bandung.
Dengan edukasi yang telah diberikan, pendaki diajak bersama-sama lebih perduli terhadap kesiapan, keamanan, dan keselamatan dalam diri selama pendakian. Menjadi pendaki bijak, tidak hanya mengejar tuntutan tren atau gaya hidup sosial media semata.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 Good Health and Well-Being
Penulis: Ali Fikri
Editor: Avicena C. Nisa
