KABAR FIKKIA – Momen Idul Adha selalu diwarnai dengan semangat berbagi melalui penyembelihan hewan kurban. Masyarakat biasanya menerima paket daging kurban yang diperoleh dari panitia penyembelihan di lingkungannya. Semangat ini harus dibarengi dengan pemahaman penanganan dan penyimpanan daging secara higienis. Dosen Kedokteran Hewan FIKKIA Universitas Airlangga drh. Prima Ayu Wibawati, M.Si, memberi solusi penanganan daging kurban yang baik, agar tidak menjadi sumber risiko penyakit zoonosis bagi kesehatan keluarga dan lingkungan sekitar.

Suhu Optimal Penyimpanan Daging
Daging kurban sangat mudah rusak jika dibiarkan di suhu ruang. “Idealnya, daging sudah dibagikan maksimal 5 jam pasca disembelih,” jelas Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner. Lewat dari itu, bakteri seperti Salmonella, E. coli, atau Campylobacter bisa berkembang dan membahayakan kesehatan. Beliau juga menekankan bahwa hewan yang tampak sehat belum tentu bebas patogen. “Banyak mikroorganisme zoonosis bersarang di saluran cerna, dan bisa mencemari daging jika penyembelihan tidak dilakukan secara higienis,” tambahnya.
Salah kaprah sering terjadi, misalnya mencuci daging sebelum disimpan, atau mencairkan daging beku di suhu ruang. “Air kran bisa membawa kontaminan tambahan. Mencuci daging sebelum disimpan hanya akan meningkatkan risiko kontaminasi silang,” tegasnya.
Begitu pula dengan pencairan, gunakan metode pencairan dalam kulkas chiller bersuhu 4 °C atau air dingin dengan kantong plastik tertutup. Hindari air panas atau suhu ruang yang membuat bagian luar daging berada pada suhu rawan (5–60 °C), meski bagian dalam masih beku.
Empat Pilar Penyimpanan Aman Daging Kurban.
Menurut drh. Prima, ada empat aspek penting yang harus diperhatikan agar daging kurban tetap aman dan awet. Pilar pertama adalah suhu penyimpanan. “Kalau hanya disimpan untuk 1–2 hari, cukup di chiller bersuhu 4°C. Tapi kalau lebih dari itu, wajib dibekukan di suhu –18°C atau lebih rendah,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar tidak asal membekukan. Prima menegaskan, pembekuan dibawah –18°C dapat mengawetkan daging hingga 12 bulan. Pembekuan setengah hati justru bisa merusak struktur daging dan mempercepat pembusukan saat dicairkan.

Pilar kedua adalah kebersihan dan sanitasi. Semua alat, permukaan, dan wadah yang digunakan harus bersih. “Cuci tangan sebelum dan sesudah menangani daging, dan hindari talenan kayu karena sulit disanitasi. Gunakan talenan plastik yang lebih aman,” sarannya.
Pilar ketiga yaitu pengemasan yang tepat. drh. Prima merekomendasikan kemasan vakum untuk memperlambat oksidasi dan pertumbuhan bakteri. “Kalau tidak ada vakum, cukup gunakan wadah tertutup yang bersih. Tapi jangan pakai plastik hitam karena bisa mengandung bahan kimia berbahaya,” tegasnya.

Terakhir, drh. Prima menyoroti pentingnya pengaturan waktu simpan dan proses pencairan (thawing). “Daging di kulkas sebaiknya segera diolah dalam dua hari. Kalau dibekukan, potong kecil-kecil sesuai porsi masak agar tidak perlu dicairkan berulang-ulang. Thawing berkali-kali akan menurunkan kualitas dan meningkatkan risiko mikroba,” jelasnya.
Dengan pemahaman dan praktik yang tepat, daging kurban bisa benar-benar menjadi berkah tanpa membawa risiko kesehatan yang tersembunyi bagi masyarakat.
Penulis: Ryan Adi Taufiqurrahman
Editor: Avicena C. Nisa
