FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Epidemiolog UNAIR Sebut Tracing Berlapis Kunci Cegah Lonjakan COVID-19 di Banyuwangi

KABAR FIKKIA – Menyikapi langkah antisipatif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi dalam menghadapi potensi lonjakan kasus COVID-19,, pengamat epidemiologi menyoroti pentingnya strategi pelacakan (tracing) yang lebih mendalam. Dosen Epidemiologi Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi, Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes., menyebut bahwa penguatan 3T (Testing, Tracing, Treatment) melalui konsep tracing berlapis adalah kunci utama untuk memutus rantai penularan secara efektif.

Langkah Cerdas Pemkab Banyuwangi

Ayik, sapaan akrabnya, menilai Surat Edaran (SE) Nomor 773 Tahun 2025 Tentang Kewaspadaan terhadap Peningkatan Kasus Covid-19 yang dikeluarkan Pemkab Banyuwangi merupakan langkah manajemen risiko yang cerdas. Menurutnya, kebijakan ini berfungsi sebagai peringatan dini (early warning) yang krusial. Terutama bagi daerah dengan mobilitas penduduk yang tinggi seperti Banyuwangi.

“Langkah Pemkab ini merupakan sebuah tindakan antisipatif yang tepat, ini merupakan bagian dari mitigasi. Secara prinsip, pendekatan preventif selalu lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan penanganan setelah kasus meluas,” ujar Ayik.

Ayik Mirayanti Mandagi S.KM M.Kes

Transparansi Data dan Tracing Berlapis

Agar kebijakan lebih optimal, Ayik menyarankan agar SE tersebut didukung oleh data surveilans yang transparan dan rutin disampaikan kepada publik. Data seperti jumlah tes harian, positivity rate, dan detail kelompok yang dites diyakini dapat membangun pemahaman serta kewaspadaan di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tracing menjadi titik paling krusial. Dosen Epidemiologi dan Surveilans itu mengusulkan konsep tracing berlapis untuk diterapkan di lapangan.

  1. Tracing Lapis Pertama: Ini merupakan langkah wajib untuk melacak semua kontak erat dari kasus positif, seperti anggota keluarga yang tinggal serumah atau rekan kerja dalam satu ruangan.
  2. Tracing Lapis Kedua: Ini merupakan strategi tambahan yang dilakukan jika penularan menyebar sangat cepat. Tujuannya adalah mengingatkan kontak dari kontak erat (misalnya, teman kerja dari anggota keluarga yang kontak erat) untuk waspada, bahkan sebelum hasil tes dari kontak erat lapis pertama keluar. Namun, ini tidak wajib dilakukan karena butuh sumber daya tidak sedikit.,

Protokol Kesehatan Fleksibel dan Adaptif

Agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, lanjutnya, protokol kesehatan (prokes) harus bersifat fleksibel, edukatif, dan fokus pada situasi berisiko tinggi. Mengacu pada angka fatalitas kasus yang masih nol, di sekolah, guru dan siswa yang bergejala ISPA sangat dianjurkan untuk memakai masker sebagai langkah preventif. Untuk ruang publik yang lebih luas seperti perkantoran atau mal, kebijakan seperti Work From Home (WFH) baru perlu diterapkan jika grafik kasus terkonfirmasi sudah melampaui batas waspada. Jika kondisi memburuk, langkah yang lebih tepat menurutnya adalah pembatasan jam operasional, bukan lockdown total.

“Kuncinya adalah fleksibel dan edukatif, bukan aturan kaku. Dengan begitu, masyarakat terlindungi sementara aktivitas sosial dan ekonomi tetap bisa berjalan dengan penyesuaian,” tutupnya.

Penulis: Satria Farrely Ardiansyah

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *