KABAR FIKKIA – Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HMKH) FIKKIA Universitas Airlangga kembali menyelenggarakan kuliah tamu bertema konservasi satwa liar akuatik. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Minggu (28/6/2025), dan diikuti oleh 98 mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR. Kuliah tamu kali ini menghadirkan drh. Dwi Suprapti, M.Si, seorang dokter hewan sekaligus pakar mamalia laut dari SEALIFE Indonesia dan IAM Flying Vet. Dalam paparannya, drh. Dwi membahas secara mendalam mengenai penanganan dugong dan lumba-lumba yang terdampar, mulai dari tahap evakuasi hingga proses rehabilitasi.
Meningkatnya Kasus Terdamparnya Mamalia Laut
Mengawali materi, drh. Dwi menyampaikan bahwa kasus mamalia laut terdampar di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data, lebih dari 300 kejadian tercatat antara 2016 hingga 2020.
Jenis mamalia laut yang paling sering ditemukan dalam kondisi terdampar antara lain paus, lumba-lumba, dan dugong. Beberapa faktor penyebab utamanya meliputi perubahan arus laut, terperangkap alat tangkap, paparan polusi laut, tabrakan kapal, serta gangguan sonar bawah laut. Tidak jarang pula ditemukan kasus akibat penyakit infeksius dan gangguan toksikologis.
Penanganan Mamalia Laut: Dari Tanggap Darurat hingga Rehabilitasi
Materi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai tiga tahapan penanganan mamalia laut terdampar:
- First Response
Penolong pertama perlu segera menghubungi otoritas terkait, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), BKSDA, atau Whale Stranding Indonesia. Selama menunggu tim ahli, hewan harus dilindungi dari stres, cahaya matahari, dan angin kencang. Posisi lubang napas juga harus dijaga agar tetap terbuka dan tidak terendam air. - Stranding Team Response
Tim ahli akan menilai kondisi hewan secara menyeluruh. Bila memungkinkan, hewan dapat direhabilitasi dan dilepas kembali ke habitat alami. Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, tindakan eutanasi yang manusiawi bisa menjadi pilihan terakhir. - Post-stranding Response
Hewan yang berhasil diselamatkan akan menjalani masa rehabilitasi. Sementara itu, hewan yang tidak selamat akan dilakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian serta potensi risiko penularan penyakit.
Selama proses tersebut, peralatan dasar seperti tandu berbahan lembut, kain basah untuk menjaga kelembapan kulit, dan kendaraan evakuasi sangat diperlukan.
Rehabilitasi Memerlukan Kesiapan Fasilitas dan Sumber Daya
Tidak semua mamalia laut dapat langsung kembali ke laut setelah diselamatkan. Beberapa di antaranya mengalami luka serius, kelelahan berat, atau stres yang memerlukan perawatan intensif. Proses rehabilitasi mencakup pemberian cairan, pengobatan luka, pemantauan perilaku, serta simulasi pelepasan bertahap di kolam besar.
drh. Dwi mengingatkan bahwa proses rehabilitasi hanya ideal dilakukan di fasilitas yang memiliki tenaga ahli dan sarana pendukung memadai. Tanpa hal tersebut, penanganan bisa berdampak buruk terhadap kondisi hewan.
Peran Mahasiswa dalam Konservasi Mamalia Laut
Menutup sesi, drh. Dwi mengajak para peserta untuk berkontribusi dalam konservasi mamalia laut. Bentuk kontribusi bisa dilakukan melalui kegiatan sukarelawan, riset, atau kampanye edukasi kepada masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi setiap kasus terdampar sebagai bagian dari upaya pengumpulan data konservasi dan perumusan kebijakan ke depan.
“Mamalia laut bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi juga indikator kesehatan laut kita,” tuturnya.
Kuliah tamu ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan dan keterampilan dasar dalam penanganan satwa laut sangat penting, terutama bagi calon dokter hewan yang akan berperan langsung dalam upaya penyelamatan dan konservasi satwa akuatik di Indonesia.
Penulis: Hanifa Khansa Khairunnisa
Editor: Avicena C. Nisa
