Kawah Ijen merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan di Indonesia. Lanskap berupa danau asam terbesar di dunia dan fenomena blue fire langka menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, di balik keindahannya, tersimpan risiko kesehatan dan keselamatan yang kerap luput dari perhatian. Tim pengajar dan mahasiswa Prodi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga di Banyuwangi, melakukan pengamatan langsung realitas di lapangan beberapa waktu lalu. Kami menemukan bahwa antusiasme wisatawan sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan yang memadai. Ini adalah tantangan yang membutuhkan perhatian dan tindakan bersama.
Risiko Kesehatan di Balik Keindahan Alam
Menuju Kawah Ijen berarti menghadapi kawasan vulkanik di ketinggian 2.386 mdpl. Gunung Ijen memang dikenal sebagai destinasi wisata dengan jalur pendakian yang terbuka, namun ia tetaplah alam bebas yang menuntut kesiapan dan kehati-hatian. Selain menawarkan keindahan, ada potensi risiko kesehatan bagi para pendaki. Beberapa di antaranya adalah suhu dingin ekstrem, paparan gas belerang, hingga risiko gangguan kesehatan akibat ketinggian seperti Acute Mountain Sickness (AMS) dan High Altitude Pulmonary Oedema (HAPE) (Susetyo et al, 2024; Zidan et al., 2025).
Ironisnya, banyak pendaki seolah mengabaikan risiko-risiko ini. Pada Mei lalu, jumlah pengunjung Ijen sempat melonjak tajam. Lonjakan ini bahkan viral karena menyebabkan kemacetan di jalur pendakian. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang tergoda oleh pesona Ijen. Namun, mereka belum sepenuhnya memahami konsekuensinya. Berbagai risiko yang ada memang tidak seharusnya menghalangi kita menikmati pesona Kawah Ijen. Namun, pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita hanya fokus pada pengalaman pendakian yang berkesan tanpa mempedulikan aspek keselamatan?
Pelajaran dari Lapangan dan Panduan Praktis bagi Pendaki
Sebagai bagian dari kegiatan mata kuliah Travel Medicine 1, kami melakukan studi lapangan (field trip) di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Kawasan Geopark yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur. Kami mengkaji kesiapan para pendaki terhadap faktor risiko kesehatan dan keselamatan yang mungkin mereka hadapi dalam pendakian. Bagi mahasiswa, ini adalah kesempatan berharga untuk melihat aplikasi nyata dari teori yang mereka pelajari di kelas, sekaligus untuk memahami betapa krusialnya implementasi travel medicine.
Pengamatan kami di Paltuding, area tempat istirahat dan berkumpulnya para pendaki sebelum dan sesudah pendakian. Terdapat beberapa temuan yang perlu diperhatikan. Kami mengidentifikasi risiko-risiko yang tampak diabaikan, namun berdampak nyata bagi kesehatan. Bukan tanpa solusi, risiko-risiko tersebut bisa kita cegah dengan persiapan yang memadai.
Pakaian dan Perlengkapan
Beberapa pendaki mengenakan pakaian yang kurang sesuai dengan kondisi alam. Pakaian berbahan tipis, tidak menyerap keringat, atau tidak tahan angin. Hal ini meningkatkan risiko hipotermia, terutama ketika mendaki di suhu dingin pada dini hari—waktu umum untuk memulai pendakian ke Kawah Ijen untuk bisa menyaksikan blue fire.

Pakaian dan perlengkapan bukan sekadar daftar yang harus dipenuhi sebelum mendaki. Pendaki harus mempersiapkan dan memastikan pakaian yang dipakai sesuai dengan kondisi lingkungan alam yang akan dilalui. Dalam konteks pendakian Kawah Ijen, kenakanlah pakaian berlapis dan tahan angin, pakaian cepat kering, dan celana panjang trekking. Selain itu, perhatikan pula alas kaki. Gunakan sepatu trekking dengan sol antiselip untuk mencegah tergelincir di medan berbatu. Jangan lupa, siapkan kotak P3K berisi plester, obat antiseptik, perban, dan obat pribadi.
Pengetahuan Dasar tentang Kesiapsiagaan
Temuan penting lain dari kegiatan lapangan kami adalah bahwa sebagian besar pendaki belum sepenuhnya memahami risiko keselamatan dan kesehatan saat pendakian. Padahal, mereka umumnya sudah menyiapkan perlengkapan dengan cukup baik. Pengetahuan dasar tentang lokasi tujuan sangat penting. Selain itu, keterampilan sederhana dalam pencegahan dan pertolongan pertama juga sangat membantu. Kedua hal ini dapat memitigasi berbagai risiko yang mungkin terjadi selama pendakian.

Kawah Ijen kaya akan belerang yang dapat mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, bawalah masker untuk melindungi pernapasan dari paparan gas belerang serta kacamata pelindung untuk mencegah iritasi. Selalu kenakan masker saat berada di dekat kawah dan ikuti arahan petugas atau pemandu. Jika merasa pusing atau sesak napas, segeralah menjauh dari area kawah.
Persiapan Fisik Sebelum hingga Setelah Pendakian
Pendakian Kawah Ijen memerlukan kondisi fisik prima. Sebelum mendaki, latih fisik dengan melakukan olahraga kardio seperti jogging dan bersepeda 2-3 pekan sebelum pendakian. Terutama bila ini pendakian pertama. Penuhi asupan energi dan nutrisi dengan makanan bergizi seimbang serta hidrasi yang cukup, minimal 2 liter setiap hari. Menjelang jadwal pendakian, pastikan tubuh kita siap untuk mendaki dengan melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama jika kita memiliki riwayat penyakit seperti asma atau gangguan jantung.
Selama pendakian, perhatikan langkah saat berjalan. Medan Jalur pendakian merupakan tanah, bebatuan, dan pasir vulkanik yang licin. Pijak dengan mantap, terutama di jalur curam, dan gunakan trekking pole untuk keseimbangan. Minum air secara teratur setiap 30–45 menit bermanfaat untuk mencegah dehidrasi. Ambil istirahat singkat jika merasa lelah, tetapi hindari berhenti terlalu lama agar tubuh tetap hangat. Waspadai gejala seperti pusing, mual, atau kelelahan ekstrem. Jika merasakan gejala tidak biasa, segera beri tahu pemandu atau cari posko bantuan terdekat. Di puncak, nikmati pemandangan danau kawah yang memukau dan udara sejuk sembari tetap mematuhi rambu-rambu keselamatan.
Perjalanan turun sering kali lebih menantang karena stamina tubuh yang mulai berkurang. Lakukan langkah pendek dan gunakan trekking pole untuk mengurangi risiko tergelincir. Perjalanan turun biasanya dilakukan pada pagi atau siang hari. Paparan sinar ultraviolet menjadi risiko lain yang perlu diperhatikan. Sayangnya, observasi dan wawancara kami mengungkap bahwa penggunaan tabir surya masih belum menjadi kebiasaan umum. Maka, bawa dan gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30, topi, atau kacamata hitam untuk melindungi kulit dan mata dari sinar ultraviolet. Setelah tiba di area istirahat, melakukan peregangan ringan atau berendam di air hangat dapat membantu merelaksasi otot. Setelah pendakian, makanlah makanan bergizi dengan kandungan karbohidrat dan protein yang cukup untuk memulihkan energi.
Tanggung Jawab Bersama untuk Wisata Aman dan Berkesan
Kawah Ijen adalah anugerah alam yang wajib kita jaga, termasuk keselamatan para pengunjungnya. Kesadaran akan travel medicine—ilmu yang mempelajari pencegahan dan penanganan masalah kesehatan yang berkaitan dengan perjalanan—masih perlu ditingkatkan secara signifikan. Setelah masing-masing individu melakukan upaya mitigasi personalnya dengan baik, kolaborasi multi-pihak mutlak diperlukan agar mitigasi risiko bisa lebih efektif dan komprehensif:
- Pengelola wisata harus proaktif menyediakan informasi yang jelas dan mudah diakses mengenai risiko kesehatan dan keselamatan terkait pendakian. Rambu-rambu peringatan di lokasi, brosur informatif, atau kampanye digital melalui media sosial dapat menjadi alternatif solusi.
- Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam dalam mendukung penguatan aspek kesehatan wisata melalui pengembangan program travel medicine. Hal ini mencakup penyediaan regulasi pendukung, pelatihan petugas lapangan, serta penyediaan layanan medis darurat yang siap siaga di lokasi wisata.
- Akademisi, termasuk institusi pendidikan seperti FIKKIA UNAIR, memiliki peran vital dalam melakukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko kesehatan di destinasi wisata. Akademisi juga memiliki tanggung jawab dalam mengedukasi masyarakat dan menyiapkan calon tenaga profesional yang kompeten dalam bidang travel medicine.
Pendakian Kawah Ijen adalah pengalaman yang luar biasa jika dilakukan dengan persiapan yang matang dan kesadaran penuh. Dengan fisik yang prima, perlengkapan yang memadai, dan sikap hati-hati, kita dapat menikmati keindahan alam sekaligus menjaga keselamatan. Sudah saatnya kita menyadari bahwa pesona Kawah Ijen tidak hanya tentang pemandangan, tetapi juga tentang bagaimana kita melindungi diri dan sesama di tengah keindahan yang rentan.
Tim Penulis:
- Ivan Rahmatullah, dr., MPH, PhD.
- Noviyanti Eka Wardani, dr., Sp.S.
- dr. Husada Tsalitsa Mardiansyah
- Daffa Febriean Rovalino (196241010)
- Michael Krisna Arron Wibowo (196241035)
Editor: Avicena C. Nisa

(1) Comment