KABAR FIKKIA – Setiap orang tua tentu menginginkan masa depan yang cerah bagi anaknya. Namun, tidak semua menyadari bahwa periode golden age (0-5 tahun), khususnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Fase 1000 HPK menjadi paling krusial dalam pembentukan struktur dan fungsi otak. Pada tahap ini, lebih dari 80% jaringan otak dewasa mulai terbentuk. Menjadikannya waktu yang sangat menentukan bagi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak.
“Jika masa 1000 Hari Pertama Kehidupan tidak dimaksimalkan, kita bukan hanya kehilangan potensi emas seorang anak, tapi juga berisiko membentuk generasi dengan kecerdasan yang tertinggal secara permanen,” tegas Dr. Muhammad Irvan Avandi, Sp.A., Dosen Kedokteran FIKKIA UNAIR Divisi Ilmu Kesehatan Anak.

Perkembangan Otak di Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan
Periode 1000 HPK mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Orang tua sangat dianjurkan memberi stimulasi, asupan nutrisi seimbang, serta pola pengasuhan yang adaptif. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kapasitas belajar dan regulasi emosi anak. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai pentingnya intervensi dini tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga seluruh elemen masyarakat yang peduli terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Nutrisi, stimulasi, dan lingkungan yang optimal sangat memengaruhi kemampuan kognitif, emosi, dan sosial anak di masa depan. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas perkembangan selama 1000 HPK berdampak langsung pada kemampuan belajar dan prestasi anak saat dewasa. Anak yang mengalami malnutrisi atau minimnya stimulasi pada masa ini berisiko mengalami hambatan belajar, prestasi akademik rendah, dan beberapa masalah sosial lainnya
Kegiatan Stimulus Tumbuh Kembang Otak Anak
Ivan mengatakan, interaksi verbal dan tatap muka yang konsisten, seperti berbicara, menyanyi, dan membacakan buku kepada bayi, terbukti mampu merangsang perkembangan bahasa dan emosional anak. Selain itu, permainan edukatif seperti puzzle dan balok warna juga membantu melatih kemampuan motorik serta logika. Aktivitas fisik yang sesuai usia seperti merangkak, berjalan, hingga bermain di luar ruangan juga penting untuk menunjang koordinasi dan kesehatan otak.

Sumber: cradleofhope.org
“Rutinitas harian yang stabil, aman, dan penuh kasih sayang menjadi fondasi penting dalam pembentukan rasa aman dan percaya diri anak. Membatasi screen time dan menggantinya dengan aktivitas nyata adalah langkah bijak untuk memastikan otak anak berkembang optimal sesuai tahapan usianya”. Ujarnya
Nutrisi Seimbang untuk Tumbuh Kembang Optimal
Dokter yang juga alumnus FK UNAIR itu menambahkan, pentingnya asupan makanan bergizi seimbang untuk ibu dan balita. Berikut sumber pangan bergizi yang disarankan:
- ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun. MP-ASI sejak usia 6 bulan dengan kandungan nutrisi yang seimbang.
- Karbohidrat : makanan pokok seperti beras, jagung, ubi, gandum dan sagu
- Protein hewani: ikan (terutama ikan laut seperti salmon), telur, ayam, dan daging.
- Lemak sehat: ikan, alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun.
- Zat besi: dari hati ayam, daging merah, dan kacang-kacangan.
- Zat gizi mikronutrien: vitamin A, D, B kompleks, seng, dan yodium (penting untuk fungsi saraf dan metabolisme otak).
- Sayuran dan buah berwarna cerah juga (mendukung perkembangan otak melalui antioksidan).
Investasi Masa Depan Bangsa
FIKKIA UNAIR sebagai kampus yang fokus di bidang kesehatan, turut berupaya memberi edukasi dan pendampingan secara nyata. Pencegahan stunting terus digalakkan. Kejadian stunting menyebabkan tumbuh kembang otak anak berkurang. FIKKIA berupaya melalui pendampingan posyandu, kampanye makanan sehat, serta kolaborasi dengan puskesmas dan pemangku kebijakan lokal.
“Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga berdampak pada fungsi otak dan masa depan bangsa. Dengan menerapkan stimulasi yang tepat, nutrisi seimbang, dan pola asuh yang konsisten sejak dini, potensi terbaik anak dapat dikembangkan secara optimal”. Tutupnya
Langkah ini menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga bagi kualitas masyarakat secara keseluruhan. Sudah saatnya kita lebih sadar bahwa masa kecil bukan sekadar tahap tumbuh, melainkan fondasi kehidupan yang menentukan arah masa depan generasi penerus bangsa.
Penulis: Putri Laura Faradina
Editor: Avicena C. Nisa
