FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Belajar Langsung Konservasi Penyu di Turtle Sanctuary Rantau Abang Malaysia

KABAR FIKKIA –  Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Internasional Universitas Airlangga kembali menghadirkan pengalaman belajar lintas negara yang berkesan. Aktivitas kali ini mahasiswa diajak ke pusat konservasi penyu tertua di Malaysia yaitu Turtle Sanctuary Rantau Abang, Terengganu pada Sabtu (02/08/2025). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta BBK UNAIR dan dipandu oleh Sayf Alaydrus dan Aulia Chanakia Maharani.

Kunjungan ini menjadi bagian penting dari agenda eksplorasi konservasi dan pelestarian lingkungan laut. Khususnya perlindungan spesies penyu yang semakin terancam keberadaannya di habitat alami. Peserta diajak menyelami langsung proses konservasi yang dilakukan di kawasan sepanjang 14 km dari Kampung Jambu Bongkok hingga Kampung Sungai Kuala Abang.

Pusat konservasi Penyu Belimbing, dan Penyu Hijau

Turtle Sanctuary Rantau Abang sendiri mulai beroperasi pada tahun 1985, dan diresmikan sebagai pusat konservasi penyu pertama di Malaysia pada tahun 1989 oleh pemerintah Terengganu. Kini, tempat ini berperan sebagai pusat informasi, konservasi, serta edukasi tentang penyu dan dikelola oleh Departemen Perikanan Malaysia.

Penampungan tukik sebelum siap dilepas-liarkan. Sumber: Istimewa

Pantai Rantau Abang menjadi lokasi pendaratan bagi dua spesies penyu utama, yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriacea) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu belimbing dikenal sebagai spesies terbesar, dengan panjang mencapai 2 meter dan berat hingga 500 kg. Sedangkan penyu hijau memiliki panjang sekitar 1,2 meter dengan berat 270 kg. Masing-masing memiliki musim bertelur yang berbeda, serta pola makan yang khas seperti ubur-ubur dan rumput laut.

Penyu belimning di kolam rehabilitasi. Sumber: Istimewa

Pusat konservasi ini juga menjalankan fungsi penting dalam pengumpulan data, pemulihan penyu yang terluka akibat jaring nelayan, serta pelepasan tukik ke laut. Terdapat tiga kolam penangkaran khusus bagi penyu yang sakit. Penyu-penyu itu akan dirawat hingga sembuh selama kurang lebih satu tahun sebelum dilepas-liarkan atas rekomendasi Dinas Perikanan. Sementara itu, pelepasan tukik dilakukan dua hari sekali atau menyesuaikan program dari pemerintah daerah setempat.

Ancaman Perubahan Iklim dan Kerusakan Habitat

Dalam kunjungan ini, para peserta BBK UNAIR mendapatkan wawasan mendalam mengenai ancaman nyata populasi penyu. Tak hanya dihadapkan dengan para pemburu liar, penyu juga menanggung dampak pencemaran laut, hingga perubahan iklim. Mahasiswa melihat secara langsung bagaimana pencemaran cahaya dan pembangunan pantai yang tidak terkendali dapat mengganggu proses alami penyu dalam bertelur dan kembali ke laut.

Kegiatan ini memperkaya wawasan peserta terkait pelestarian spesies laut, serta memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang peduli terhadap isu-isu lingkungan global. Melalui pengalaman ini, diharapkan mahasiswa mampu membawa semangat konservasi dan edukasi lingkungan kembali ke komunitas lokal di Indonesia.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land, dan ke-17 Partnerships for the Goals

Penulis: Aqila Fawziya Mustafa

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *