KABAR FIKKIA – Mahasiswa UNAIR Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Internasional turut ambil bagian dalam kegiatan konservasi lingkungan pada Minggu (03/08/2025). Bertajuk Gelam Tree Replanting for Ecosystem Restoration, lima mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIKKIA antusias menanam pohon kayu putih (Melaleuca cajuputi) di Pantai Teluk Bidara, Dungun, Malaysia. Kegiatan didampingi oleh pakar peneliti pohon gelam (kayu putih) dari Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Assoc. Prof. Dr. Jamilah Salim.
Perjalanan menuju lokasi bukanlah hal mudah. Para peserta harus menempuh jarak sekitar 72 kilometer dari titik kumpul awal—menjadikannya salah satu perjalanan terjauh selama program BBK berlangsung. Namun, semangat konservasi mengalahkan lelah perjalanan. Setibanya di lokasi, para peserta disambut hangat oleh Dr. Jamilah dan timnya. Sebelum melakukan penanaman peserta mendapat pengenalan dan pengarahan tentang tanaman kayu putih. di Malaysia tanaman khas Asia Tenggara ini dikenal dengan nama pohon gelam atau gelam tree.
Bahan Baku Minyak Kayu Putih
Assoc. Prof. Dr. Jamilah menegaskan pentingnya pelestarian pohon gelam yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis bagi masyarakat. Pohon gelam memiliki fungsi ekologis sebagai pencegah erosi, menjaga kualitas air tanah, sekaligus menyediakan habitat bagi satwa. Karakteristik pohon yang tinggi dan besar menciptakan naungan sekaligus melindungi tanaman dan satwa lain dibawahnya. Selain itu daun kayu putih menghasilkan minyak atsiri. Minyak ini telah lama dimanfaatkan untuk industri kesehatan terutama aromaterapi. Oleh karenanya pohon ini juga menjadi sumber bahan baku minyak kayu putih yang dimanfaatkan oleh komunitas lokal.

“Saya berharap keterlibatan mahasiswa internasional dalam kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap keberlanjutan lingkungan” ucap Prof Jamilah.
Terdapat 30 bibit pohon gelam yang telah disiapkan. Pohon tersebut ditanam serentak dan bersama sama di lahan penelitian UMT. Masing-masing mahasiswa menanam dan menyiram pohon dengan penuh antusias dan kehati-hatian. Para peserta tampak bersemangat dan optimis bahwa pohon yang mereka tanam akan tumbuh subur dan memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem Teluk Bidara.
Selain sebagai aksi nyata pelestarian lingkungan, kegiatan ini juga memiliki nilai edukatif. Mahasiswa diperkenalkan pada konsep community-based ecological restoration serta pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi krisis iklim dan degradasi lingkungan.
Kegiatan menjadi sarana pembelajaran luar ruang, sekaligus momentum bagi mahasiswa UNAIR memperluas perspektif mengenai pentingnya konservasi berbasis penelitian. Keterlibatan akademisi dan komunitas lokal dalam upaya reboisasi, membuat peserta BBK Internasional makin bersemangat mengadaptasi di lingkungan masing-masing.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land, dan ke-17 Partnerships for the Goals
Penulis: Aqila Fawziya Mustafa
Editor: Avicena C. Nisa
