KABAR FIKKIA – Ketatnya persaingan di dunia kerja mendorong mahasiswa untuk mencari jalur alternatif, termasuk mendirikan usaha sejak duduk di bangku kuliah. Lima mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga membuktikan hal tersebut melalui bisnis perikanan terintegrasi bernama Amertafish.
Kelima mahasiswa tersebut adalah Alie Fikri, Indra Syahdan, Khoirul Anwar, dan Taufik Hidayat dari Prodi Akuakultur angkatan 2021, serta Zahwa Yasmina dari Prodi Kesehatan Masyarakat 2024.
“Amerta bermakna keabadian. Kami terinspirasi kisah Raja Airlangga sebagai sosok berjiwa ksatria. Nama tersebut turut menjadi harapan, usaha yang dijalankan tangguh dan bertahan ditengah iklim usaha yang naik-turun” Jelas Alie saat diwawancara
Alie mengaku motivasi awalnya sederhana, menyiapkan cadangan jika dunia kerja tidak sesuai harapan. Prinsip ini yang membuatnya berani membangun usaha sejak masih kuliah. Ia Bersama teman-temannya memulai usaha budidaya ikan lele sejak 2022. Pada 2024, keberhasilan mulai tampak ketika hasil panen yang semula berjumlah kwintalan, meningkat hingga satuan tonase.
Usung Konsep Budidaya Terintegrasi
Amerta mengusung konsep integrasi farming yang menggabungkan beberapa komoditas sekaligus. Produk yang dihasilkan mencakup zooplankton seperti moina dan daphnia; tanaman air seperti frogbit, lemna minor, azolla, dan talas sente; hingga cacing tanah (ANC) serta ayam kampung. Seluruh komoditas ini terintegrasi untuk mendukung ekosistem kolam dan menjadi pakan alami bagi ikan.
Jenis ikan yang dikelola cukup beragam, mulai dari nila, lele, gurame, wader pari, wader cakul, hingga channa limbate (ikan gabus). Proses budidaya dilakukan melalui tiga tahapan utama: pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Menurut Alie, kunci keberhasilan terletak pada manajemen kualitas air, penggunaan bioteknologi, serta penerapan biosekuriti untuk mencegah serangan penyakit.

Di tengah kesibukan kuliah, tim Amertafish membagi tugas agar operasional tetap berjalan. Setiap anggota memiliki peran fleksibel dan dapat saling menggantikan bila terjadi bentrok jadwal.
“Fokus utama tetap kuliah. Kalau ada jadwal bentrok, tim yang akan meng-handle,” jelas Alie.
Meski sudah menunjukkan hasil, usaha ini tetap menghadapi tantangan. Permintaan pasar yang fluktuatif, perubahan iklim, dan keterbatasan modal menjadi kendala utama. Untuk mengatasinya, tim menerapkan pendekatan berbasis teknologi dan strategi pasar. Mereka juga menjalin kemitraan dengan investor untuk mendukung permodalan. Dari sisi pemasaran, Amertafish lebih banyak mengandalkan metode offline agar hubungan dengan mitra tetap terjaga secara personal.

Sebagai pesan bagi mahasiswa lain, Ali menegaskan tiga kunci utama dalam membangun bisnis: manajemen risiko, permodalan, dan marketing.
“Kalau hanya punya satu atau dua kunci, usaha tidak akan berhasil. Kalau kurang, bisa berkolaborasi dengan orang lain yang punya kunci itu,” tegasnya.
Penulis: Zahwa Yasmina Fajri
Editor: Avicena C. Nisa
