KABAR FIKKIA – Unit Kegiatan Mahasiswa Konservasi dan Pecinta Alam FIKKIA Universitas Airlangga turut serta dalam kegiatan bakti sosial Abdi Isun yang digelar oleh KSR PMI FIKKIA bersama Aubmo FIKKIA. Kegiatan berlangsung Jumat (5/09/2025) di Panti Asuhan Budi Mulya dengan dihadiri 30 peserta. Panitia sengaja memilih anak anak sebagai upaya pengenalan manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang tersedia di sekitarnya.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah penyuluhan mengenai TOGA yang disampaikan oleh Aqila Fawziya (KESMAS 23). Dalam pemaparannya, Aqila memperkenalkan berbagai jenis tanaman obat yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Seperti jahe, kencur, kunyit, sereh, bunga telang, dan daun kelor.

MAWAPRES 3 FIKKIA itu menjelaskan, bahan herbal tersebut dapat diolah menjadi minuman segar, maupun sayuran lezat pendamping nasi.
“Tanaman obat keluarga merupakan kearifan lokal yang bisa jadi solusi praktis menjaga kesehatan sehari-hari,” ujar Aqila didampingi Kepala Panti Abdul Muhid.
Anak-anak terlihat antusias. Mereka aktif bertanya, bahkan berbagi pengalaman tentang tanaman yang pernah mereka lihat atau gunakan. Suasana menjadi semakin hidup ketika pemateri mengaitkan bercerita manfaat tanaman dengan kebutuhan sehari-hari. Misalnya minum wedang jahe saat hujan atau menanam kelor di pekarangan.
Praktik Pembuatan Minuman Sehat
Salah satu rangkaian acara yang paling diminati peserta adalah praktik membuat jamu modern menggunakan bahan alami. Kegiatan ini dipandu oleh Yohana Calista (KESMAS 23) dan Nadine Ayanda (AKUA 24). Mereka mengajak anak-anak untuk mengenal jamu sebagai bagian dari tradisi masyarakat Indonesia, yang dikemas kekinian sesuai dengan selera generasi muda.
Yohana dan Nadine memperkenalkan menu khas bernama “Telang Fresh”. diracik menggunakan kombinasi ekstrak bunga telang, sirup vanila, dan ekstrak selaginella. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa manis segar sekaligus menampilkan warna biru keunguan yang menarik perhatian anak-anak.
Setiap langkah pembuatan ditunjukkan secara langsung, mulai dari proses ekstraksi sederhana hingga cara mencampurkan bahan dengan takaran yang pas. Anak-anak panti tampak bersemangat memperhatikan, bahkan beberapa di antaranya mencoba membantu proses pencampuran
Ekspresi gembira terlihat jelas ketika mereka mencoba minuman tersebut. Beberapa anak bahkan menyebut minuman jamu mirip dengan minuman populer yang biasa dijual di kafe, namun tetap menyehatkan.
“Senang rasanya, anak anak kami bisa belajar dengan cara menyenangkan dengan kakak mahasiswa. Apalagi dapat pengenalan manfaat, sekaligus mencicipi minuman herbal segar. Ini akan menambah pengalaman dan wawasan anak anak tentunya.” Ujar Kepala Panti Abdul Muhid
Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa dalam menghidupkan kembali tradisi jamu dengan sentuhan baru. Selain memberikan edukasi kesehatan, acara ini juga menanamkan nilai penting menjaga keanekaragaman pangan lokal melalui cara kreatif dan menyenangkan.
Penulis: Aqila Fawziya
Editor: Avicena C. Nisa
