KABAR FIKKIA – Kuliah tamu Social and Learning Activity with Morality for Nation 2025 (SALMON) sukses terselenggara. Mengangkat tema spesial mengenai terumbu karang dan ekosistem laut, SALMON 2025 menarik perhatian 80 mahasiswa Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) dan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga. Kuliah berlangsung di Aula Kampus Mojo (26/09/2025) dengan pembicara Suciyono, S.St.Pi., M.P dan Sukirno. Suciyono merupakan dosen manajemen lingkungan akuatik, sedangkan Sukirno adalah nelayan lokal sekaligus penggerak konservasi terumbu karang di Bangsring Underwater.
Rehabilitasi Ekosistem Laut melalui Transplantasi Terumbu Karang
Suciyono menekankan bahwa terumbu karang merupakan hewan hidup yang terbentuk melalui simbiosis antara polip dan zooxanthellae.
“Polip menyediakan nutrien untuk fotosintesis zooxanthellae, sedangkan zooxanthellae menghasilkan oksigen yang penting bagi kehidupan karang,” jelasnya.
Ia menambahkan, terumbu karang berperan penting dalam akuakultur. Mulai dari menyeimbangkan pH air yang cenderung basa hingga menjadi media tumbuh bakteri.

Sumber: UKIP FIKKIA
Dalam paparannya, Suciyono menguraikan jenis, fungsi, dan proses pembentukan terumbu karang, termasuk perannya sebagai habitat biota laut, tempat pembesaran ikan, dan kawasan pemijahan. Namun, ia mengingatkan adanya ancaman serius kerusakan terumbu karang.
“Secara global, kerusakan terumbu karang sudah mencapai 30–36 persen. Transplantasi merupakan metode rehabilitasi yang paling murah dan efektif,” paparnya.
Farel (AKUA FPK 24), menanyakan penyebab kepadatan zooxanthellae yang lebih tinggi pada kedalaman 15meter dibanding 5meter.
“Hipotesis awal mengarah pada stabilitas suhu, salinitas, serta peran spektrum cahaya yang diserap zooxanthellae di kedalaman tertentu.” Jawab Suciyono
Suciyono juga menyoroti bahwa riset di Universitas Airlangga selama ini lebih banyak berfokus pada bidang penyakit dan kesehatan, sedangkan kajian mengenai penyakit yang menyerang terumbu karang masih sangat terbatas.
Transformasi Bangsring Underwater
Berdasarkan cerita yang disampaikan Sukiro, Desa Bangsring telah bermetamorfosa kearah jauh lebih baik. Desa yang awalnya menjadi pelaku praktik illegal fishing, perlahan mulai sadar pentingnya menjaga ekosistem laut. Sejak 2008, masyarakat berkomitmen mengembangkan pola tangkap ramah lingkungan, menghasilkan lingkungan yang lebih bersih dan terumbu karang yang kian sehat.
“Kini Desa Bangsring menjadi destinasi konservasi dan ekowisata laut. Kami memiliki fish apartment 2,5 meter sebagai tempat reproduksi ikan, serta melakukan monitoring transplantasi terumbu karang setiap tiga bulan”. Jelas Sukiro

Menurutnya, masyarakat juga terus meningkatkan keahlian dalam memperbanyak terumbu karang. Mengingat diperlukan keterampilan khusus memotong organ terumbu karang sebagai bahan transplantasi. Metode transplantasi yang tepat dan benar menambah peluang terumbu karang dapat hidup dan berkembang baik di dasar laut.
Nur Halimah, (AKUA 23) menanyakan perbedaan mekanisme kerja tiap jenis karang. Sukirno menjelaskan, hard coral lebih mampu mempertahankan ekosistem dan menjadi tempat konsumsi ikan. Sedangkan soft coral lebih rentan mati karena teksturnya.

Sumber: UKIP FIKKIA
Kedatangan dua pemateri membawa pengetahuan segar bagi peserta yang hadir. Mahasiswa mendapat pengetahuan baru mengenai konservasi dan transplantasi terumbu karang.
“Keahlian dan pengalaman langsung di bidang terumbu karang menjadi nilai tambah penting. Materi yang disampaikan padat dan relevan, sehingga memberikan wawasan yang bermanfaat bagi kami”. Kata Kinanti (AKUA 24) usai kelas kuliah tamu.
Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda perikanan dan kelautan untuk terus menjaga keberlanjutan laut Indonesia. Memastikan terumbu karang tetap menjadi benteng ekologi sekaligus sumber kesejahteraan nelayan pesisir.
Penulis: Nirmala Sagita
Editor Avicena C. Nisa
