FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mahasiswa Profesi Dokter Hewan Gali Ilmu Seputar Leptospirosis bersama Peneliti BRIN

KABAR FIKKIA – Leptospirosis masih menjadi perhatian dunia. Laporan global memperkirakan terdapat sekitar 1,03 juta kasus setiap tahun dengan angka kematian mencapai 58.900 jiwa. Penyakit ini menyebar subur di wilayah lembab beriklim tropis seperti Indonesia. Oleh karenanya pencegahan dan deteksi penyakit yang disebabkan bakteri leptospira terus dilakukan. Dokter hewan berperan melakukan identifikasi menyeluruh terhadap deteksi dan pencegahannya.

Stase mikrobiologi PPDH FIKKIA UNAIR mendatangkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempelajari kasus leptospirosis secara mendalam. Dr. Farida Dwi Handayani, S.Si., MS hadir melakukan diskusi sekaligus praktik diagnosa di Laboratorium Terpadu 1 Kampus Giri selama dua hari. (25-26/09/2025). Mahasiswa PPDH III kelompok 2 mendapat banyak pengetahuan tentang update kasus leptospirosis dunia, khususnya Indonesia. Terlebih juga melakukan praktik dengan uji Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk penegakan diagnosa.

Waspada Leptospirosis di Lingkungan Sekitar

Berdasarkan penjelaskan yang dijelaskan Farida, penularan leptospirosis terjadi melalui kontak hewan dengan lingkungan. Tikus, ternak, anjing, dan babi menjadi inang alami bakteri leptospira. Peningkatan kasus leptospirosis terjadi saat musim hujan, terutama di daerah endemik seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Kami di BRIN melakukan penegakan diagnosa dengan uji molekuler menggunakan PCR konvensional. Ini memastikan keberadaan material genetik bakteri target dapat terdeteksi lebih akurat.” Ujar Farida

Mahasiswa melakukan praktik PCR menggunakan hewan sampel yang telah didapat dari lapangan. Diantaranya 5 ginjal tikus dan 3 ginjal sapi yang didapat dari daerah sekitar Banyuwangi.

Praktikum stase mikrobiologi bersama pemateri tamu Farida, sangatlah memberikan wawasan bagi mahasiswa PPDH. Calon dokter hewan ini dapat memahami mengenai detail penegakan diagnosa yang dipilih agar sesuai dengan siklus penyakit Leptospira spp.

“Saya senang diundang untuk sharing apa yang selama ini saya tekuni sebagai peneliti, yaitu zoonosis dan deteksi penyakit,”, Ujar Farida selaku pemateri tamu PPDH Stase Mikrobiologi.

Dengan Kolaborasi bersama Peneliti BRIN, FIKKIA UNAIR telah membuka wawasan para calon dokter hewan tentang apa permasalahan dan tantangan terkait Leptospirosis. Dalam pengendalian leptospirosis, harus dilakukan secara komprehensif, baik dari sisi kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan. Saat ini sedang diupayakan bersama, yang disebut One Health.

Mahasiswa PPDH III kelompok 2. Sumber: Istimewa

Kedepannya kolaborasi penelitian leptospirosis akan dilakukan BRIN dan FIKKIA UNAIR. Terlebih keberadaan Farida sebagai peneliti ahli, mencoba berbagai kultur leptospira dari tikus maupun hewan lainnya.

“FIKKIA UNAIR telah mempersiapkan ahli ahli dan praktisi yang nantinya paham bagaimana epidemiologi dan deteksi leptospirosis”, Kata  Farida di penghujung perkuliahan

Penulis: Putri Laura Faradina

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *