FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kedokteran Hewan FIKKIA Sosialisasikan Electric Separating Sperm pada Peternak Sambirejo

KABAR FIKKIA – Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR menghadirkan terobosan pengembangan reproduksi peternakan kambing. Explorasi Electric Separating Sperm (ESS), teknologi sexing sperma sebagai solusi  untuk meningkatkan produksi dan reproduksi ternak. drh. Amung Logam Saputro, M.Si mengenalkan ESS kepada 25 peternak komunitas kambing Sambirejo pada Jumat (10/010/2025) di Pendopo Balai Desa Seneporejo, Bangorejo, Banyuwangi. Pengabdian masyarakat bertujuan mengenalkan ESS sekaligus sekaligus membuka wawasan peternak terhadap inovasi yang dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Kegiatan dibuka resmi oleh Kepala Desa Seneporejo, Markus Adianto, A.Md. Hut, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif akademisi UNAIR. Dalam sambutannya, Markus menekankan pentingnya mengimplementasikan  ilmu dari perguruan tinggi ke masyarakat desa, khususnya dalam bidang peternakan yang menjadi salah satu sumber mata pencaharian.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran para teman mahasiswa dan dosen membawa harapan baru bagi peternak kami untuk bisa lebih maju dan mandiri secara teknologi,” ujar Markus.

Edukasi Sexing Sperma dan Manajemen Kesehatan Ternak

Sesi edukasi dimulai dengan pemaparan dari drh. Robi Gian Ferrari Anwar yang membahas secara detail tentang teknologi sexing sperma. Ia menjelaskan bahwa metode Electric Separating Sperm (ESS) bekerja dengan prinsip pemisahan sperma berdasarkan muatan listrik yang berbeda antara kromosom X dan Y. Dengan teknologi ini, peternak dapat menentukan jenis kelamin anak kambing sejak tahap inseminasi buatan.

“Teknologi ESS memungkinkan peternak untuk merancang populasi ternaknya secara lebih terarah. Misalnya, jika ingin meningkatkan produksi susu, maka induk betina lebih diutamakan. Sebaliknya, untuk penggemukan, anak jantan lebih menguntungkan,” jelas Robi.

Selain itu, beliau juga memberikan materi tentang manajemen kesehatan ternak, mencakup sanitasi kandang, pencegahan penyakit menular, serta pemberian pakan yang sesuai dengan fase reproduksi ternak.

Selanjutnya Drh. Amung Logam Saputro memberikan arahan teknis mengenai prinsip kerja alat ESS dan bagaimana teknologi ini dapat diintegrasikan dalam sistem peternakan rakyat.

“Kami ingin para peternak memahami bahwa teknologi ini bukan sesuatu yang rumit. Dengan pemahaman yang tepat, mereka bisa menjadi pelaku utama dalam meningkatkan produksi ternak unggul,” ujar Amung.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, panitia menyelenggarakan sesi pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Peternak dengan jawaban paling tepat mendapatkan hadiah berupa 1 karung konsentrat dan 3 botol EM4 sebagai bentuk apresiasi.

Muhammad Wahid, peraih nilai tertinggi pretest dan postest. Sumber: Istimewa

Muhammad Wahid, anggota kelompok ternak  berhasil meraih nilai tertinggi. Ia mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya terhadap ilmu yang didapat.

“Saya sangat senang mendapatkan hadiah ini. Tapi yang lebih penting adalah ilmu yang luar biasa tentang reproduksi kambing. Ini membuka wawasan saya untuk beternak dengan cara yang lebih modern dan terencana,” tutur Wahid.

Pengmas menjadi bukti nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam mendorong inovasi berbasis teknologi. Dengan pemahaman tentang sexing sperma dan manajemen reproduksi, para peternak diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ternak secara berkelanjutan dan mandiri.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *