FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

NYUBRICK FIKKIA UNAIR dan Warga Pulau Santen Kembangkan Ekonomi Kreatif Berbasis Lingkungan

KABAR FIKKIA – Rangkaian kegiatan Program Pengabdian Masyarakat NYUBRICK FIKKIA UNAIR 2025 dimulai dengan workshop bertema ”Pelaksanaan Program Digital Marketing” pada Sabtu (11/10/2025) di Pantai Pulau Santen Banyuwangi. Agenda pelatihan berfokus pada pemanfaatan limbah rumah tangga dan potensi alam diikuti oleh 10 orang ibu ibu dari Pulau Santen.

dr. Binthary Wuryaningsih, S.E, selaku founder Banyuwangi Osoji Club hadir sebagai narasumber yang siap berbagi ide dan pengalaman pengelolaan sampah. Banyuwangi Osoji Club merupakan komunitas lingkungan yang aktif dalam kegiatan edukasi dan pengelolaan limbah rumah tangga.

Limbah rumah tangga seperti minyak jelantah diolah kembali menjadi lilin aromaterapi. Ada juga pemanfaatan buah mangrove (propagul) menjadi kopi khas Pulau Santen. Workshop menjadi wujud kolaborasi antara mahasiswa FIKKIA UNAIR dan masyarakat Pulau Santen dalam mendukung ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

Peluang Ekonomi dari Mangrove

Peserta mempelajari dan mempraktikkan proses pengolahan minyak jelantah menjadi lilin. Tahapan kegiatan meliputi penyaringan minyak, pencampuran bahan tambahan, pewarnaan, pencetakan, hingga pengemasan produk.

Sebagai kawasan pesisir hijau, propagul banyak ditemui di area Pulau Santen. Propagul yang dimanfaatkan untuk kopi berasal dari jenis mangrove Rhizophora mucronate.

Bintari menjelaskan, pembuatan kopi dimulai dari pemotongan propagul. Buah yang sudah dipotong ukuran sedang kemudian direndaman air kapur sirih untuk mengurangi kadar tanin. Setelah direndam 3 hari, biji kemudian dikeringkan dan disangrai sampai biji sudah pecah dan beraroma harum kopi. Terakhir kopi digiling dan dikemas.  Grind size kopi mangrove dapat disesuaikan dengan selera hasil akhir kopi yang diinginkan.

Propagul mangrove Rhizophora mucronate yang berwarna kecoklatan. Sumber: africanplants

Kopi mangrove mengandung antioksidan lebih tinggi daripada kopi jenis lain. Adapun kopi mangrove tidak mengandung kafein, sehingga dapat dijadikan alternatif bagi penderita gangguan lambung.

Warga Pulau Santen Diana, mengungkapkan bahwa masyarakat sebenarnya telah mencoba mengolah buah mangrove. Seperti sirup mangrove, namun produk tersebut memiliki keterbatasan masa simpan karena tidak menggunakan bahan pengawet.

“Kalau sirup cepat basi karena tanpa pengawet, tapi kalau kopi kan kering, jadi lebih tahan lama dan bisa disimpan lebih lama,” ujarnya.

Diana menambahkan bahwa dengan bentuk yang kering, kopi mangrove memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan dan dapat menjadi produk unggulan khas pesisir.

Selain praktik pembuatan produk, peserta juga mendapatkan materi rebranding dan strategi pemasaran digital untuk meningkatkan daya saing produk olahan masyarakat pesisir. Dalam sesi ini, peserta dibimbing untuk memahami pentingnya kemasan yang menarik, penentuan identitas merek (branding), serta pemanfaatan media sosial dan platform online shop sebagai sarana promosi dan penjualan.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-17 Partnerships for the Goals

Penulis: Ananda Herlina Ramadhani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *