KABAR FIKKIA – 12 mahasiswa Program Studi S1 Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Banyuwangi sebagai relawan medis event Gandrung Sewu “Selendang Sang Gandrung”. Tim juga bekerjasama dengan beberapa tim medis dari puskesmas maupun rumah sakit yang ada. Terdapat 1400 penari yang menari pada Sabtu (25/10/2025) di Pantai Boom, Banyuwangi mendapatkan perhatian khusus dari tim medis jika terjadi insiden.

Identifikasi Budaya dan Insiden Medis
Keduabelas mahasiswa tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok kecil dalam menjalankan dua pos kesehatan di sisi selatan dan utara. Tugas mereka adalah mendokumentasikan, mencatat, dan membawa penari yang terjatuh dengan tandu untuk menuju ke mini hospital ataupun ambulance. Mereka juga mengidentifikasi aspek budaya dan fisik dari tarian kolosal mempengaruhi jenis insiden medis.
Beberapa penari terindikasi mengalami kram otot, dehidrasi, atau bahkan kelelahan akibat panas (heat exhaustion). Hal tersebut merupakan dampak dari menari dalam durasi panjang di bawah terik matahari dengan area yang luas. Ditambah dengan kostum yang cukup berat dan intensitas gerakan yang tinggi. Bagi mahasiswa Kedokteran FIKKIA menjadi pengalaman medis yang unik karena secara langsung terkait dengan performa seni dan budaya.
Penanganan dalam Kerumunan Massa
Penari maupun penonton yang mengalami masalah kesehatan mungkin berada dalam kerumunan massa yang cukup sulit terlihat. Tim melakukan triage cepat (Pemilahan Korban): Pada saat dalam kerumunan massa yang sangat banyak, tim harus cepat segera mengidentifikasi dan memprioritaskan penanganan insiden, membedakan antara kasus ringan seperti lecet, pusing ringan, dehidrasi dengan kasus yang membutuhkan evakuasi cepat misalnya, heat stroke, cedera serius.
Mereka juga harus memahami dan mempraktekkan jalur evakuasi pasien dari titik insiden (area penari) ke pos kesehatan, kemudian ke mini hospital/ambulans, dan jika perlu ke rumah sakit rujukan. Hal ini melatih koordinasi tim yang sangat penting dalam kondisi bertekanan. Karena acara di luar ruangan, ilmu tentang penanganan kasus terkait cuaca yaitui dehidrasi, sunburn, atau heat exhaustion/stroke menjadi sangat terpakai.
Kendala yang Tak Menghalangi
Akses dan mobilitas yang terbatas pada area pertunjukan yang luas dengan kepadatan kerumunan penonton maupun penari bisa menghambat mobilitas tim medis untuk mencapai pasien dengan cepat. Membawa tandu dalam kondisi padat juga menjadi tantangan yang besar. Tanggung jawab besar yang dipikul juga semakin berat dengan terik matahari dengan kelembaban yang tinggi tidak hanya membuat penari lelah, tetapi tim medis itu sendiri.
Dalam melewati hal tersebut, tim medis termasuk dari mahasiswa menggunakan tandu yang dirancang untuk mobilitas cepat, bahkan ada tim roving (berkeliling) untuk merespons insiden awal dan ada juga tim yang bertugas untuk membantu membukakan jalan agar mempercepat mobilitas.
Tim medis memastikan bahwa diri mereka sendiri terhidrasi dengan baik dan mengambil waktu istirahat sejenak untuk mempertahankan kesigapan selama bertugas di bawah tekanan dan cuaca yang menantang. Pembagian menjadi kelompok-kelompok kecil di pos kesehatan utara dan selatan juga menjadi solusi efektif untuk memastikan cakupan area.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
