FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Peran Strategis Dokter Hewan dalam Konservasi Badak Indonesia

Imvet Wildlife Animal Care (WLAC) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga kembali menghadirkan kuliah tamu satwa liar. Satwa Badak menjadi fokus perhatian konservasi karena keberadaannya yang terancam punah. Kuliah tamu bertajuk Herbivore/ Konservasi Badak Indonesia: Peran Strategis Dokter Hewan Terhadap Wildlife Care membahas lebih dalam bagaimana upaya pelestarian terus diupayakan. Kegiatan dilaksanakan melalui zoom meeting oleh 100 mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan pada Sabtu (25/10/2025). Tak hanya kepada calon dokter hewan, kuliah tamu juga melibatkan diskusi aktif dari mahasiswa kehutanan dan biologi. Peserta terdiri dari mahasiswa UNPAD, UNAIR, UNUD, Universitas Syiah Kuala, Universitas Mulawarman, dan Universitas Negeri Padang.

Update Populasi Badak di Indonesia

drh. Dedy Surya Pahlawan, dokter hewan ahli dari Yayasan Badak Indonesia (YABI) memberikan materi komprehensif mengenai kondisi terkini badak di Indonesia. Diketahui, Indonesia memiliki dua spesies badak yang tetap ada. Badak Jawa dan Badak Sumatera, yang jumlahnya sangat terbatas dan terancam punah. Populasi Badak Jawa diperkirakan hanya sekitar 87-100 individu yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon. Sedangkan Badak Sumatera tersebar di beberapa habitat, dengan jumlah yang bahkan lebih sedikit.

Pemateri menjelaskan beragam upaya pelestarian yang telah dilakukan. Pemindahan lokasi/  translokasi satwa untuk memperkuat populasi dan memperluas habitat, serta program breeding dan rehabilitasi di penangkaran. Selain itu, ada tantangan besar yang dihadapi oleh dokter hewan dalam menjaga kesehatan satwa langka ini. Mulai dari penanganan medis, reproduksi yang rumit, sampai mitigasi ancaman dari perburuan dan kerusakan habitat.

Pada materi yang dipaparkan, peserta mendapatkan penjelasan rinci tentang badak dan perilakunya. Mulai dari morfologi, tingkah laku unik badak seperti urine spray dan scratching cula, hingga gangguan yang bisa menghambat proses reproduksi badak di penangkaran. Kegiatan berlangsung kaya dengan interaksi, dimana para peserta mengajukan banyak pertanyaan dan menunjukkan antusiasme yang tinggi.

“Peran dokter hewan sangat vital dalam keseluruhan upaya konservasi badak, mulai dari aspek medis hingga strategis rehabilitasi dan pengelolaan habitat. Kami berharap edukasi ini dapat mempersiapkan generasi baru dokter hewan yang mampu menghadapi kompleksitas konservasi satwa langka di Indonesia.” Ujar Dedy

Kuliah tamu konservasi menjadi bukti komitmen FIKKIA UNAIR mengintegrasikan mahasiswa ke dalam pembelajaran pelestarian satwa lair yang aplikatif dan multidisipliner. Melalui program ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa yang tergerak untuk berkontribusi dalam pelestarian wildlife Indonesia.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *