KABAR FIKKIA – Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang III FIKKIA UNAIR baru saja melaksanakan kegiatan Kuliah Tamu Stase Patologi Satwa Liar. Kuliah tamu berlangsung 10-11 November 2025 khusus membahas penanganan mamalia laut terdampar di smartclass Kampus Mojo. Management satwa liar menjadi pengajaran unggulan di PPDH FIKKIA. Mendukung hal tersebut, kuliah tamu mengundang drh. Deny Rahmadani, M.Si. Beliau merupakan dokter hewan sekaligus peneliti Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Organisasi pemerhati kesejahteraan dan rehabilitasi satwa yang telah beroperasi di Indonesia sejak 2008.
Penyu dan mamalia laut seperti paus sperma, dugong, dan lumba-lumba seringkali ditemukan terdapar ke pesisir dalam keadaan hidup, bahkan mati. Lalu, bagaimana melakukan evakuasi dan penanganan pada satwa tersebut.
Saat Satwa Ditemukan Hidup
drh. Deny menjelaskan setiap satwa membutuhkan penanganan yang berbeda. Proses dimulai dengan observasi awal dan pengendalian lingkungan di sekitar lokasi terdampar agar steril dan aman dari gangguan. Ketika satwa ditemukan masih hidup, yang harus dilakukan adalah menjaga kelembaban tubuh, memastikan lubang napas bebas dari air dan pasir, serta melindungi tubuh dari paparan sinar matahari.

”Jika posisi diluar air, jaga kelembaban tubuh menggunakan selimut basah. Pastikan sirip atas (dorsal) tetap terbuka. Bawa segera ke perairan dengan tetap hati hati” Ujar Deny
Ia menambahkan, sebelum pemindahan satwa, pastikan menghadap ke arah peraian. Bukan menghadap ke arah daratan. Usahakan tidak memutar tubuh satwa ke samping ataupun menarik paksa.
Bagaimana Jika Ditemukan Mati?
Jika satwa ditemukan mati, lakukan dokumentasi menyeluruh, identifikasi spesies, pengukuran morfologi, serta pengambilan sampel jaringan untuk keperluan analisis medis dan penelitian (dengan perizinan pihak terkait sesuai UU perlindungan satwa).
Nekropsi dilaksanakan secara aseptik dengan membuka rongga tubuh melalui sayatan ventral untuk mengevaluasi organ vital. Pemeriksaan dilakukan pada organ paru-paru, hati, ginjal, saluran pencernaan, dan organ reproduksi guna menentukan kemungkinan penyebab kematian.
Perkuliahan Konservasi Berkelanjutan
Kuliah tamu menghadirkan praktisi ahli satwa liar telah konsisten dilakukan. Kurikulum PPDH FIKKIA telah dirancang khusus membekali mahasiswa dengan ketrampilan bidang satwa liar..
”Indonesia masih belum banyak dilakukan pembelajaran penanganan satwa liar akuatik. Harapannya dapat meningkatkan implementasi kegiatan edukasi untuk kemajuan konservasi dimasa yang akan datang“, ujar dokter hewan yang juga bertugas di Umah Lumba Bali tersebut.

Melalui kolaborasi FIKKIA dan JAAN, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan teoritis, tetapi juga pemahaman praktis mengenai bagaimana dokter hewan berperan dalam konservasi dan penanganan satwa liar, termasuk mamalia laut dan penyu yang memiliki fungsi ekologis tinggi di alam.
“Kuliah bersama drh. Deny sangat menarik, apalagi bisa berdiskusi langsung dengan pemerhatipenyu dan mamalia laut dari Umah Lumba, Bali (JAAN Indonesia)“, ujar Dika Dwi Oktavianti (PPDH III).
Penulis: Putri Laura Faradina
Editor: Avicena C. Nisa
