FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kedokteran FIKKIA Bahas Potensi Penyakit Dekompresi Akibat Penyelaman

KABAR FIKKIA – Nelayan tradisional yang menyelam merupakan bagian tenaga kerja informal dengan pemantauan kesehatan minim. Mereka hidup bergantung pada penyelaman untuk menangkap hasil laut dan menggunakan alat sederhana tanpa pedoman keselamatan. Masalah kesehatan yang timbul dapat berupa kondisi dekompresi. Hal tersebut juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang ditimbulkan dalam aktivitas penyelaman saat berwisata.

Oleh karena itu, S1 Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi menyelenggarakan webinar “Occupational Medicine in Fisherman Divers: Lessons from Thailand – Health Locus of Control and Decompression Sickness.” Kegiatan yang berlangsung melalui zoom meeting pada Selasa (11/11/2025) menghadirkan dua pemateri dari Prince of Songkla University. Songkhla, Thailand. Yaitu Assc. Prof. Chutarat Sathirapanya, Dr. P.H. dan Suebsai Varopichetsan, M.D., M.Sc.

Potensi Dekompresi Akibat Penyelaman Tradisional

Decompression sickness (DCS) adalah kondisi yang muncul ketika penyelam naik ke permukaan terlalu cepat. Tekanan air menjadi semakin tinggi membuat nitrogen dari udara yang dihirup larut ke dalam darah dan jaringan. Ketika penyelam naik terlalu cepat membuat tekanan menurun mendadak. Sehingga nitrogen yang larut berubah menjadi gelembung gas di dalam tubuh. Gelembung ini dapat menyumbat pembuluh darah, merusak saraf, atau menekan sendi yang memicu gejala ringan seperti nyeri sendi hingga gejala berat seperti kelumpuhan dan gangguan neurologis.

Gambaran penyelaman tradisional dengan kompresor udara. Sumber: zoom

Terdapat dua tipe DCS. Tipe I berupa non-sistemik, ringan dengan gejala berupa nyeri sendi, pruritus, eritema, edema lokal, cutis marmorata, cyanosis, limfadenopati, dan dispnea. Sedangkan Tipe II yang sistemik dan serius dengan gejala dispnea, ataksia, gangguan penglihatan, kehilangan memori, paresis-paralisis, dan kehilangan kontrol sphincter.

Faktor Budaya, Sosial, Ekonomi

Keyakinan membentuk perilaku dan perilaku membentuk kesehatan. Pengetahuan saja tidak menjamin praktik yang aman. Dalam komunitas nelayan, penggunaan peralatan selam yang minim terjadi akibat kebiasaan turun temurun. Sebuah Persepsi tentang kendali eksternal yang sering kali menentukan orang bertindak berdasarkan apa yang mereka ketahui sebelumnya. Di komunitas nelayan Lipe, Thailand terdapat 44.8% penyelam pernah mengalami DCS yang merupakan nelayan tradisional. 10.3% termasuk dalam kasus berat. Penanganan awal sering dilakukan secara tradisional. Seperti pijat dan mandi air suci yang tidak efektif secara medis.

Beberapa kebiasaan nelayan tradisional berisiko yang meningkatkan DCS yaitu melakukan neberapa kali penyelaman setiap hari dengan istirahat singkat di permukaan, penyelaman jarak jauh, dan penyelaman dalam yang berulang-ulang. Dapat diperparah dengan faktor personal seperti body mass index yang tinggi dan konsumsi alkohol sebelum penyelaman.

Sehingga perlu ada pembentukan perilaku penyelaman yang aman dalam komunitas. Perubahan beberapa individu dapat menjadi percontohan agar penyelam nelayan tradisional lain percaya bahwa kesehatan mereka tidak bergantung pada takdir. Oleh karena itu perlu ada peningkatan pengetahuan dan pengembangan kapasitas melalui keterlibatan masyarakat dan perilaku. Tentu dengan dukungan sistem dan kebijakan sebagai penyeimbang perubahan yang terjadi.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *