KABAR FIKKIA – Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FIKKIA UNAIR menggelar kegiatan dengar aspirasi bersama Dekan pada Kamis (04/12/2025) di Aula Kampus Mojo. Forum hearing bertujuan menciptakan ruang dialog terbuka antara mahasiswa dan Dekan guna memperkuat komunikasi dua arah di lingkungan fakultas. Melalui forum ini mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi, kritik, dan saran dalam berbagai aspek. Pimpinan juga dapat memberi penjelasan langsung mengenai kebijakan, program, serta isu isu yang berkembang. Forum ini menjadi wadah untuk membangun hubungan yang harmonis dan kolaboratif demi kemajuan fakultas.

Dekan FIKKIA Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS. (K) bersama Wakil Dekan; Kasubag Bidang I, II , III serta perwakilan dosen dan tenaga kependidikan S1 Akuakultur; S1 Kesehatan Masyarakat; S1 Kedokteran Hewan; S1 Kedokteran dan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH); hadir siap menjawab keluh kesah dan masukan dari BLM.
Diskusi menyoroti layanan akademik, manajemen ruangan, serta pelaksanaan perkuliahan. Khususnya yang bersangkutan dengan sistem manajemen ruang (SIMARU) dan program PPDH.
Kenalkan E-Lapor di Web FIKKIA
Dekan FIKKIA menanggapi berbagai aduan yang disuarakan mahasiswa. Ia mengenalkan layanan E-LAPOR, call center pengaduan untuk mempermudah penyampaian keluhan tanpa harus melalui mekanisme hearing. Melalui E-LAPOR civitas akademik dapat menyampaikan keluh kesahnya. Mulai dari aduan sarana prasarana, layanan akademik dan non akademik dengan melampirkan foto bukti pendukung.
“Sebenarnya kami telah mencoba mengembangkan dan menguji penggunaan E-LAPOR pada website FIKKIA akan tetapi belum tersosialisasi dengan baik.” Ujar Hapsari Kenconojati, S.Si., M.Si. selaku ketua Satuan Penjamin Mutu (SPM) fakultas.

Formulir E-LAPOR terhubung langsung ke Dekanat dan SPM yang bertugas melakukan koordinasi, pengembangan, monitoring, dan evaluasi aktivitas penjaminan mutu. Mahasiswa dapat mengakses E-LAPOR di menu kiri atas halaman beranda website FIKKIA.
Berbagai Masukan dan Perbaikan untuk FIKKIA
Mahasiswa menyampaikan persoalan manajemen ruangan terkait SIMARU. Salah satu mahasiswa PPDH menyampaikan kesulitan dalam mengakses ruang diskusi untuk perkuliahan.
“Ruang diskusi seringkali penuh peminjaman di SIMARU, sehingga kami masih mencari-cari ruangan ketika hendak melaksanakan perkuliahan dan diskusi secara privat,” Ungkapnya.
Perwakilan PPDH juga menyoroti keamanan praktik klinik, mengingat adanya risiko ketika melakukan penanganan satwa. Mahasiswa mengajukan usulan vaksinasi rabies bagi mahasiswa PPDH sebagai langkah pencegahan, meskipun tidak ditanggung BPJS.
FIKKIA diharapkan dapat menegosiasikan subsidi vaksin agar pelaksanaan massal lebih terjangkau. Perubahan kurikulum PPDH dari dua menjadi tiga semester juga menjadi perhatian, karena sistem baru menimbulkan implikasi pembiayaan dan waktu tempuh.
Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS. (K) memberi tanggapan bahwa diharapkan adanya prioritas peminjaman ruang untuk PPDH. Terutama oleh pengadministrasi Prodi PPDH, apabila manajemen tidak memungkinkan.
Mengenai risiko dalam pelaksanakaan praktik diharapkan mahasiswa tetap berhati-hati dan tetap melaksanakan SOP keselamatan, salah satunya ialah melalui vaksinasi rabies secara mandiri. Sehingga, usulan program vaksinasi mahasiswa akan dipertimbangkan.
Selain itu, mengenai masa tunggu yang lebih lama tanpa penambahan SKS diharapkan mahasiswa dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian dengan lebih baik. Mengingat aspek kelulusan tepat waktu turut memengaruhi akreditasi. Hearing ditutup setelah seluruh isu dibahas dan penandatanganan komitmen dekanat untuk menindaklanjuti masukan yang disampaikan.
Penulis: Ghefira Nur Fatimah
Editor: Avicena C. Nisa
