FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Tim HEBAT FIKKIA Raih Juara 3 Nutrifood Research Center Student Bootcamp 2025

KABAR FIKKIA – Tim HEBAT Prodi Kesehatan Masyarakat FIKKKIA UNAIR sukses menyabet Juara 3 pada kompetisi yang diselenggarakan Nutrifood Research Center Student Bootcamp (NRC Student Bootcamp). HEBAT merupakan akronim dari Hidup Sehat, Bugar, dan Tangguh, yang mengajak pelajar lebih sara kesehatan dengan pola pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak. Pengumuman tersebut disampaikan NRC pada Rabu (10/12/2025) di Hotel Akmani Jakarta Pusat.

Prestasi ini diumumkan usai perjalanan panjang 5 bulan dari penyusunan proposal. Dimulai Agustus hingga presentasi akhir Desember, tim HEBAT telah menyasar 150 siswa dari 5 sekolah unggulan Banyuwangi: SMAN 1 Giri, SMAN 1 Glagah, SMAN 1 Banyuwangi, MAN 1 Banyuwangi, dan SMKN 1 Banyuwangi.

Baca juga: Program Hebat Kesmas FIKKIA Sosialisasikan Pembatasan Konsumsi GGL pada Pelajar Banyuwangi

Dipimpin Muhammad Ridwan (Kesmas 22) sebagai ketua tim, didukung Jhonatan Rameldo (Kesmas 23) dan Hisyam (Kesmas 24), program ini fokus remaja sebagai garda terdepan pencegahan penyakit tidak menular (PTM). Meskipun tidak mengikuti pengumuman pemenang secara langsung, Ridwan, Jhonatan dan Hisyam antusias mengikuti jalannya penganugerahan Nutrifood Research Center Student Bootcamp 2025 melalui sambungan langsung smart class Kampus Mojo FIKKIA.

“Senang dan bersyukur bisa menang. Tidak menyangka karena kompetitor sangat kuat, perjalanan panjang dari proposal hingga akhir,” ujar Ridwan

Penyerahan Juara 3 oleh panitia. Sumber: Istimewa

Metodologi Interaktif Jadi Diferensiasi Utama.

Di lingkungan sekitar, PTM dapat ditemui berupa penyakit diabetes, hipertensi, dan obesitas. Apabila tidak terkontrol, ketiganya amat berisiko memperparah kondisi kesehatan seseorang yang sedang terjangkit penyakit.

Sosialisasi GGL pada remaja dipilih sebagai langkah preventif edukasi dini, mengingat prevalensi obesitas remaja Indonesia telah mencapai 26,5% berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI).  Konsumsi GGL remaja Indonesia juga tercatat melebihi rekomendasi WHO, yaitu gula >10% kalori harian, garam >8 gram/hari, lemak jenuh >30% total kalori.

Hasil sosialisasi yang telah dilakukan, terdapat peningkatan rata rata pengetahuan tentang GGL sebesar 68% (pre-test 42% → post-test 78%). Sebanyak 92% siswa komitmen kurangi GGL via pledge card personal, dengan 85% lapor kepatuhan minggu pertama. Follow-up bulanan grup online juga dipertahankan 76% setelah 1 bulan.

“Terus usaha maksimal. Ide kegiatan menarik, prepare presentasi gagasan dan hasil eye-catching untuk juri,” tegas Ridwan.

Antusiasme tim terasa sepanjang timeline. Proposal disusun berdasarkan data lokal Dinas Kesehatan Banyuwangi. September presentasi gagasan lolos 50 tim nasional. Oktober-November pelaksanaan lapangan intensif, Desember presentasi hasil dan pengumuman.

Topik GGL dirasa sangat relevan dengan keadaan saat ini. Makanan dan minuman manis banyak mendominasi jajanan. Akses makanan cepat saji mulai dari kantin sekolah, jajanan UMKM, gerai di mal, hingga secangkir kopi tubruk di rumah. Makanan kemasan yang disediakan industri juga terindikasi tinggi GGL.

Program Dinas Kesehatan turunkan risiko PTM berpotensi turun 25-30% jika 80% pelajar patuh dalan enam bulan.

“Kedepan terus sebarkan edukasi GGL masyarakat luas, kolaborasi Dinkes Banyuwangi integrasi kurikulum sekolah. Semoga terus berdampak kesehatan masyarakat Indonesia.” tutup Ridwan optimis.

Penulis: Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *