KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi resmi menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah dan Rumah Sakit Nahdatul Ulama (RSNU) Banyuwangi. Penandatangan perjanjian kerjasama berlangsung pada Kamis (12/2/2026) di Aula Kampus Mojo sebelum pelaksaanaan Studium Generale Kedokteran. Penandatanganan perjanjian kerjasama dilakukan oleh perwakilan setiap lembaga. Yaitu diwakili Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS(K). (Dekan FIKKIA), dr. Ika Rahayu Susanti, MMRS., Dipl. CIBTAC., CPS., CHQP., CRM., FISQua Direktur RSNU Banyuwangi, dan dr. Widowati, Sp.An-TI Direktur RSI Fatimah Banyuwangi. Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Kedokteran FIKKIA.
Kompetensi dalam Pembelajaran Langsung
Dekan FIKKIA, Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS(K), yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis praktik dalam membentuk kompetensi calon dokter. Menurutnya, pendidikan kedokteran tidak cukup hanya mengandalkan teori dari buku, tetapi harus didukung dengan pengalaman langsung di fasilitas pelayanan kesehatan. Melalui kemitraan ini, mahasiswa diharapkan dapat belajar dengan pendekatan see, imitate, and do atau melihat, menirukan, dan mengerjakan secara langsung. Kedua rumah sakit berperan sebagai wahana pendidikan yang memungkinkan mahasiswa mengamati praktik klinis yang baik sekaligus mempraktikkan keterampilan medis dalam kegiatan pelayanan sehari-hari.
“Jadi dokter tidak bisa berhenti belajar dari buku saja.melihat, menirukan dan mengerjakan,” katanya.
Siasati Dinamika Kedokteran
Dr. Rahadian juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada RSNU Banyuwangi dan RS Fatimah Banyuwangi atas dukungan yang diberikan. Kesediaan kedua rumah sakit menjadi mitra pendidikan dinilai sebagai kontribusi penting dalam meningkatkan mutu lulusan Kedokteran FIKKIA. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dunia kesehatan terus mengalami perubahan yang cepat. Institusi pendidikan kedokteran seperti FIKKIA UNAIR perlu menyiasati berbagai dinamika tersebut agar mahasiswa mampu beradaptasi dan memberikan kontribusi maksimal dalam berbagai situasi pelayanan kesehatan.
“Terimakasih dukungan meningkatkan kualitas pembelajaran bagi mahasiswa Kedokteran FIKKIA bagi kedua rumah sakit yang mau menjadi mitra sebagai wahana tempat belajar,” jelasnya.
Kerja sama itu diharapkan tidak hanya memperkuat proses pembelajaran klinis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FIKKIA UNAIR dalam mengembangkan pendidikan kedokteran yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan berbagai mitra layanan kesehatan di Banyuwangi mendorong FIKKIA berkomitmen terus mengembangkan kompetensi mahasiswa agar siap menjadi dokter profesional yang kompeten dan responsif terhadap tantangan di masa depan.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: C. Nisa Avicena
