FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Tamu Akuakultur Bahas Kualitas Pakan Ikan dan Udang Sesuai SNI

KABAR FIKKIA – Program Studi Akuakultur FIKKIA Universitas Airlangga kembali menggelar Kuliah Tamu bertajuk “Analysis of Quality Control of Fish and Shrimp Feed in Aquaculture” pada Kamis, (12/03/2026) di Ruang G.102. Kuliah tamu dihadiri 35 mahasiswa angkatan 2023 karena linier dengan mata kuliah budidaya pakan alami. Alumni Akuakultur 2018 Ananda Wildhan, S.Pi., M.Si., hadir sebagai pemateri utama membahas pengendalian mutu pakan. Saat ini ia bekerja sebagai quality control and check list staff di PT Suri Tani Pemuka Banyuwangi.

Wildhan memulai pemaparan dengan menekankan pentingnya quality control pakan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI).  

Quality control pakan merupakan proses penting dalam pengawasan untuk memastikan pakan memenuhi standar kualitas,” Ujar Wildhan.

Tanpa pengawasan ketat, pakan gagal memenuhi nutrisi, memicu penyakit, dan menurunkan hasil produksi. Wildhan juga menyoroti bahwa pakan berkualitas tinggi dapat meningkatkan konversi pakan (FCR) hingga 20% lebih efisien, sehingga mengurangi biaya produksi budidaya.

Pakan Faktor Utama Pertumbuhan

Wildhan menyampaikan, bahwa pakan merupakan faktor utama pertumbuhan, kesehatan, dan produktivitas ikan dan udang. Proses quality control mencakup seluruh tahap produksi. Pada intake bahan baku, dicek kadar air (12-14%), kebersihan, warna, bau, dan kondisi fisik—bebas kontaminan seperti serangga atau bahan asing.

“Bahan baku yang baik harus memiliki kadar air 12-14%, tidak rusak, dan bebas bahan asing,” tambah Wildhan.

Bahan lolos lanjut ke dosing (penimbangan akurat), grinding (penggilingan halus), dan mixing (pencampuran merata dengan feed additive).

Pengaruh Suhu Terhadap Daya Apung

Tahap conditioning memanaskan bahan dengan uap (85-95°C) untuk gelatinisasi pati, meningkatkan tekstur dan stabilitas di air. Pembentukan pakan bervariasi: extruder untuk floating feed (suhu 100-190°C, diikuti dryer 100-120°C dan vacuum coating); pelletizing untuk sinking feed dan shrimp feed, plus sieving. Pengawasan in-process memantau kehalusan, kadar air, keseragaman, suhu, dan water stability yang idea di atas 90%. Laboratorium uji proksimat (protein, lemak, serat, abu), skrining kontaminan, serta mikrobiologi.

“Pengaturan suhu tepat sangat berpengaruh terhadap daya apung, tekstur, dan stabilitas pakan di air,” jelas Wildhan.

Selain itu, laboratorium quality control melakukan analisis proksimat untuk kandungan protein (minimal 30-40%), lemak, serat kasar, abu, dan kadar air. Pengujian mikrobiologi deteksi bakteri patogen seperti Salmonella, sementara skrining keamanan pastikan bebas mikotoksin. Sistem lengkap—inspeksi bahan baku, pemantauan proses, uji lab, hingga sertifikasi SNI—menjamin pakan aman dan efektif. Wildhan mencontohkan kasus kegagalan pakan di tambak udang vaname akibat kadar air tinggi, yang menyebabkan kerugian hingga Rp500 juta per siklus.

Peserta antusias bertanya soal aplikasi praktis, seperti menangani kontaminasi bahan baku lokal dan inovasi feed additive ramah lingkungan. “Kolaborasi industri-akademik jadi kunci keberlanjutan akuakultur,” jawab Wildhan. Pertanyaan lain muncul soal adaptasi teknologi extruder untuk UMKM. Acara ditutup dengan sertifikat dan networking, bekal berharga bagi mahasiswa hadapi tantangan industri masa depan.

Penulis: Farra Azzahrani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *