KABAR FIKKIA – Kabar membanggakan datang dari Ratih Novita Praja drh., M.Si. Dosen Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR yang telah lama berkecimpung di dunia akademik dan penelitian. Ia berhasil meraih beasiswa studi doktoral bidang Veterinary Environmental Sciences di Osaka Metropolitan University (OMU), Jepang.
Keputusan ini bukan hanya sekadar langkah akademik, tetapi juga sebuah perjalanan panjang dengan penuh dedikasi, keberanian, dan tekad untuk memperluas cakrawala ilmu pengetahuan. Pilihannya jatuh pada OMU karena memiliki laboratorium imunologi yang relevan dengan bidang mikrobiologi veteriner yang ia tekuni, sehingga menjadi wadah yang tepat untuk mengembangkan riset yang ia rancang.
Fokus Penelitian yang Linier
Dalam rencana risetnya, Ratih akan meneliti interaksi antara bakteri probiotik dengan parasit protozoa di saluran gastrointestinal. Penelitian ini berangkat dari fakta bahwa kasus protozoa masih banyak ditemukan pada ternak. Di Indonesia maupun Jepang kasus tersebut seringkali menimbulkan kerugian besar. Dengan pendekatan imunologi, ia berharap dapat menemukan alternatif terapi yang lebih efektif untuk penyakit tersebut. Penelitian ini akan dilakukan melalui uji in-vitro dan in-vivo, serta melibatkan kolaborasi dengan profesor dari luar OMU, sehingga hasilnya diharapkan dapat memberi dampak yang luas.
“Saya ingin melihat bagaimana sistem imun bereaksi terhadap interaksi antara bakteri baik dengan parasit, sehingga bisa ditemukan alternatif terapi yang lebih efektif,” jelasnya
Dokter Ratih menekankan bahwa penelitian yang ia jalankan tidak hanya berfokus pada laboratorium di OMU. Ruang kolaborasi dengan pakar dari berbagai universitas lain tetap terbuka. Baginya, kerja sama lintas negara adalah kunci untuk memperkaya perspektif dan memperkuat hasil penelitian. Dengan jaringan akademik yang lebih luas, ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia veteriner, sekaligus mengangkat nama KH FIKKIA di kancah internasional.
Tantangan Jalur Beasiswa SPRING
Dokter Ratih menempuh jalur beasiswa SPRING yang ditawarkan oleh OMU. Proses seleksi yang ia lalui tidaklah mudah, mulai dari melengkapi berkas administrasi, memenuhi persyaratan nilai IELTS, hingga menjalani wawancara dengan profesor. Ada pula beasiswa lain yang mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang melalui JLPT. Namun, bagi Dokter Ratih, tantangan tersebut bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses yang harus dijalani. Ia menekankan bahwa keberanian untuk mencoba adalah langkah pertama menuju kesuksesan.
Dalam pesannya, Ratih mengajak mahasiswa lain untuk berani bermimpi dan mewujudkannya. Ia mengakui bahwa rasa takut gagal sering muncul, tetapi hal itu tidak boleh menghentikan langkah. Menurutnya, mahasiswa harus fokus memilih negara tujuan, mencari peluang beasiswa, menemukan supervisor, serta menyiapkan riset plan dengan matang. Persiapan bahasa dan membaca jurnal juga menjadi hal penting.
“Kalau gagal, tidak masalah. Setidaknya kalian pernah mencoba dan mendapat pengalaman,” ujarnya penuh motivasi.
Dokter Ratih memulai studi pada musim semi 2026. Ia berharap pengalaman di Jepang dapat memperkaya ilmu dan keterampilan yang dimilikinya, sehingga bisa dibagikan kembali kepada mahasiswa di KH FIKKIA.
Penulis: Amalia Sofi Ramadanti
Editor: Avicena C. Nisa
