Perkembangan pariwisata turut mengembangkan jenis wisata itu sendiri. Kegiatan pariwisata saat ini tidak hanya mengunjungi objek pariwisata yang tampak seperti wisata alam saja, melainkan berkembang menuju wisata tak benda (intangible). Wisata tak benda menawarkan pengalaman dan nilai nilai yang diwujudkan dalam sebuah produk. Wisata tak benda dapat berupa wisata budaya, wisata religi, wisata pedidikan, dsb. Cultural trip adalah jenis kegiatan pariwisata yang memanfaatkan kebudayaan sebagai objek wisata yang dikunjungi oleh wisatawan.
Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam Universitas Airlangga melalui program kerja tahunan, yaitu Airlangga Ethno Eco-tourism dengan mengusung tema “Majestic Banyuwangi: A Journey Towards Sustainable Ecotourism with Milions Natural Beauties” berhasil mengajak mahasiswa internasional dalam kegiatan cultural trip.

Program kerja ini bertujuan untuk pariwisata Kabupaten Banyuwangi khususnya budaya dan ekologi di kancah internasional. Wisata edukasi dengan mengundang mahasiswa inbound dari luar negeri untuk meningkatkan potensi ekonomi di Banyuwangi. Selain mendapat dukungan dari SIKIA, kegiatan ini juga didukung oleh Airlangga Global Engagement (AGE).
Kegiatan field trip diadakan mulai dari tanggal 22-25 Oktober 2022. Sabtu (22/10/2022) merupakan kegiatan pertama dengan melakukan kunjungan ke destinasi wisata Kampung Lukis yang terletak di Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi. Sembilan orang mahasiswa internasional yang berasal dari Malaysia, Yaman, dan Tanzania berkesempatan mengikuti kegiatan field trip ini.
Salah satu peserta, Poon Xi Lynn mengatakan bahwa Kampung Lukis adalah desa wisata yang indah. Selain kekaguman mereka pada penampilkan karya-karya seni dari tangan seniman asli Banyuwangi yang memanjakan mata, mereka juga tampak tertarik dengan kegiatan melukis yang ditawarkan. Mahasiswa diajak melukis diatas kanvas yang telah disediakan secara berkelompok.

Sebagai tanda bukti kunjungan mahasiswa Internasional di Kampung Lukis, mereka menuliskan satu-persatu nama mereka menggunakan ragam aksara yang dipakai setiap Negara. Maka terciptalah lukisan dengan beragam representasi masing masing peserta.
Alfan Hidayat Kuswinarto selaku ketua pelaksana dari Airlangga Ethno Eco-tourism berharap nantinya program ini dapat memberikan manfaat bagi peserta, maupun bagi masyarakat luas. Selain dapat memperkenalkan budaya dan pariwisata Banyuwangi di kancah internasional, mahasiswa nasional pun mendapatkan pengalaman dan mengembangkan skill umtuk berkomunikasi dengan bahasa asing. Tak hanya itu, manfaat dari kegiatan ini juga berdampak pada bidang ekonomi. Meluasnya kebudayaan suatu daerah diharapkan mampu meningkatkan profit ekonomian Negara. Kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara dapat menggerakkan perputaran perekonomian di tempat tersebut. Hal ini secara langsung akan berdampak pada penambahan devisa negara.
Penulis : Islah Istiqomah
Editor : Choirun Nisa
