FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

KONASKAN : Mengulik Bioteknologi Terapan Sektor Perikanan yang Semakin Keren

BERITA SIKIA – Program Studi Akuakultur Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam pada Sabtu (22/10/2022) telah menyelenggarakan Konferensi Nasional Perikanan yang diselenggarakan di Ballroom Santika Hotel Banyuwangi. Ragam topic penelitian ditawarkan untuk membuka ruang diskusi ilmiah, mulai dari akuakultur, nutrisi dan pakan, kesehatan dan penyakit ikan, pengolahan dan pengolahan produk perikanan, bioteknologi akuakultur, hingga permasalahan social dan ekonomi yang berkaitan dengan perikanan.

Mengangkat tema “Bioteknologi Terapan untuk Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Sektor Perikanan” konferensi ilmiah tingkat nasional ini mengundang pakar yang menjadi pemateri sekaligus mengulas seluk beluk bioteknologi yang dapat diaplikasikan dibidang perikanan.

Pemateri yang diundang antara lain Prof. Ir. Sukoso, M.Sc., Ph.D yang merupakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang akan menyampaikan tentang bioteknologi perikanan dan kelautan. Adapula Dr. Akhmad Taufiq Mukti S.Pi., M.Si, yang adalah dosen pengajar di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Beliau memaparkan materi tentang peran bioteknologi akuakultur dalam peningkatan produktifitas perikanan dan budidaya. Terakhir ada Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. Peneliti sekaligus dosen Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada yang mengisi topik tentang nanopartikel chitosan.

Prof Sukoso menjelaskan, bahwa perkembangan bioteknologi erat dengan kebutuhan pangan. Bioteknologi modern seperti kultur jaringan dan inseminasi membantu manusia melakukan modifikasi organisme yang sesuai dengan etika. Contoh penerapannya antara lain pengembangan strain tahan hama dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan, perbaikan genetic dengan teknologi cloning dan transgenic, pemetaan sebaran strain tertentu, dan percepatan proses reproduksi.

Berbicara tentang akuakultur maka erat hubungannya dengan ikan. Laporan Statista yang berjudul Industries & Markets : Fisheries in Indonesia menunjukkan produksi ikan Indonesia relativ meningkat mulai tahun 2011 hingga 2017. Meskipun sedikit mengalami penurunan di tahun 2018 dan 2019 sebesar 0,66 metrics ton, sektor perikanan memberi kontribusi GDP kedua terbesar di Indonesia setelah sektor kehutanan di tahun 2021. Tantangan yang muncul dari besarnya produksi ikan tersebut adalah distribusi dan keawetan. Dimana ikan memiliki high protein sehingga cepat membusuk sehingga penggunaan bahan pengawet es banyak digunakan bahkan terkadang ada yang menggunakan formalin.

Sumber : Statista.com

Sebagai alternative pengawetan, Dr. Ronny menyampaikan salah satu inovasi yang bisa dilakukan yaitu nanopartikel chitosan dari limbah kulit udang atau kepiting untuk mengawetkan ikan dari fishing ground ke pelabuhan. Chitosan merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai bahan pengawet pengganti formalin karena dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme perusak, sekaligus melapisi produk yang diawetkan sehingga meminimalkan interaksi antara produk dan lingkungannya.

Dr. Taufiq juga menambahkan adanya bioteknologi akuakultur berperan dalam peningkatan produktifitas perikanan dan budidaya. Permasalahan akuakultur seperti pertumbuhan ikan yang lambat, pakan yang tidak efisien, kematian tinggi karena penyakit, dapat dicegah sejak proses pemijahan. Indukan unggul yang telah diseleksi dikawin silang melalui proses hibridasi. Hidbridasi memungkinkan dilakukannya rekayasa. Hibridasi dapat memunculkan strain baru yang lebih efisien untuk menghasilkan hibrida seragam.

Peserta Call for Paper KONASKAN Sumber : Panitia

Disesi diskusi dan tanya jawab, ada pertanyaan yang sebenarnya menjadi tanda tanya banyak orang. Yaitu mengenai kandungan nutrisi produk yang diawetkan menggunakan chitosan serta bagaimana membedakan ikan yang diberi pengawet chitafood dan formalin.

Dr. Ronny menegaskan bahwa berkurangnya nutrisi pada kandungan makanan  disebabkan oleh kerusakan.

“Pada saat kita berbicara delivery system olahan dengan pengawet chitosan apakah akan mengurangi nutrisi maka pertama-tama harus dipastikan jika barang tidak ada kerusakan yang menyebabkan bahan kehilangan nutrisi, apabila tidak ada kerusakan maka kemungkinan tidak akan berkurang juga nutrisi bahan dikarenakan pengawet chitosan” terangnya.

Selain itu, untuk membedakan ikan yang diawetkan menggunakan formalin dan chitosan cukup sulit. Namun ada yang bilang jika ikan yang dijual tidak akan dihinggapi lalat, secara kasat mata susah untuk mengetahui ikan tersebut diawetkan oleh protein.

Melalui diskusi dan pertukaran informasi di Konferensi Perikanan Nasional, maka keterbaruan ilmu pengetahuan tentang bioteknologi akuakultur dapat diterapkan setelah peserta kembali. Adapun luaran atau publikasi nantinya diterbitkan prosiding ber-ISBN yang akan diterima peserta seminar.

Penulis : Choirun Nisa

Editor : Choirun Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *