BERITA SIKIA – Minggu (28/05/2022) tim “Envirangers” SIKIA UNAIR mengadakan sosialisasi tentang pengelolaan sampah. Bertajuk “Sosialisasi Kesehatan Lingkungan: Jaga Lingkungan Hidup dengan Mengelola Sampah yang Baik” di Balai Kelurahan Sobo . Tim Envirangers beranggotakan mahasiawa Kesehatan Masyarakat yang berhasil menjuarai program pendanaan dari EcoRanger x UNICEF. Kegiatan bertujuan mengajak anak muda Indonesia agar sadar, berdaya, dan memimpin aksi perubahan untuk lingkungan.
Sosialisasi tersebut merupakan aksi lanjutan dari kegiatan Clean Up Pantai Sobo yang telah dilaksanakan minggu sebelumnya (21/05/2022).
Muhammad Ridwan, ketua pelaksana sosialisasi, menyampaikan bahwa sosialisasi ini menjadi penutup serangkaian kegiatan. Sekaligus edukasi pentingnya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Eco-enzyme jadi kunci daur ulang sampah berkelanjutan
dr. Binthary Wuryaningsih, S.E, selaku founder Banyuwangi Osoji Club hadir sebagai narasumber yang siap berbagi ide dan pengalaman pengelolaan sampah. Banyuwangi Osoji Club merupakan komunitas penggerak masyarakat agar peduli dan lebih cinta lagi dengan kebersihan lingkungan, terutama pada daerah Banyuwangi.
Beliau menjelaskan sampah rumah tangga belum terkelola dengan baik. Padahal, manfaat sampah-sampah tersebut dapat dioptimalkan apabila dikelola. Sisa potongan sayur bisa dijadikan pupuk kompos dan sisa kulit buah yang menjadi bahan utama pembuatan eco-enzyme.
Tidak hanya teori, peserta juga diberikan pemahaman praktik pembuatan kompos takakura dari sisa sayur dan pembuatan eco-Enzyme dari kulit buah.
Kulit buah yang cocok dijadikan eco-enzyme, seperti nanas, jeruk, dan semangka yang memberikan aroma manis dan segar ketika sudah siap panen.

Eco-enzyme dibuat dari tiga bahan yang mudah didapat, yaitu gula merah atau molase, kulit buah, dan air dengan perbandingan 1 : 3 : 10. Semua bahan ini dicampur pada wadah dengan permukaan tutup yang lebar agar gas di dalamnya dapat bergerak dengan bebas. Permukaan tutup wadah ditutup dengan bahan elastis seperti balon. Hal ini bertujuan agar mikroba atau bakteri dari luar tidak masuk ke dalam wadah sehingga tidak mengganggu proses pembuatan eco-enzyme.
Eco-enzyme dapat dipanen selama 3 bulan, dihitung dari semua bahan yang telah tercampur di dalam wadah pada saat pembuatan Eco-enzyme berlangsung. Eco-enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pembersih kompor, kloset kamar mandi, sabun cuci piring dan baju, serta hand sanitizer.
Acara ini ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian pupuk cair yang dibuat dari limbah bulu ayam pada aksi sebelumnya. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekitar dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Melalui perubahan perilaku individu dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendidikan, diharapkan lingkungan akan menjadi lebih bersih, sehat, dan lestari.
Penulis: Gilang Avrilio Akbar
Editor: Acn

(1) Comment