KABAR FIKKIA – Airlangga Disease Prevention and Research Center – One Health Collaborating Center (ADPRC-OHCC) dalam Kuliah Umum bagi mahasiswa Gelombang 3 Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam, Universitas Airlangga Kampus Banyuwangi (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi. Kegiatan menghadirkan drh. Lailatul Maghfiroh, M.Si. (Manager Komunikasi dan Jejaring ADPRC-OHCC) yang berlangsung Rabu (20/8/2025) di Ruang Sidang Kampus Giri. Pemateri memberikan materi berupa One Health dengan Kajian Penyakit Zoonosis (Update Penyakit Zoonosis)” dan “Efek Perubahan Iklim dan Suhu terhadap Lingkungan dan Sumber Pangan.

Update Zoonosis
Dok Laila menekankan dunia saat ini menghadapi dua jenis bencana besar yaitu bencana alam (banjir, tanah longsor, dan gempa bumi) dan bencana non-alam (penyakit menular dan tidak menular, termasuk zoonosis dan Emerging, reemerging diseases and bioterrorism). Tiga dari lima penyakit infeksi emerging setiap tahunnya adalah penyakit zoonosis. Beberapa penyakit terus bermutasi terutama high pathogenic avian influenza (HPAI) yang kini mulai menyerang mamalia. Perjalanan flu burung pernah hampir menjadi wabah di Indonesia pada periode 2005-2007. Namun, tidak ditemukan transmisi manusia ke manusia. Dengan ditemukannya kematian mamalia liar seperti anjing laut karena flu burung menjadi perhatian penting. Karena bukan tidak mungkin manusia dapat menjadi reseptor yang cocok selanjutnya bila terjadi mutasi lebih lanjut. Kasus lain yang masih terus berkembang adalah anthrax dan rabies. Dua penyakit zoonosis tersebut masih menjadi endemik yang harus segera diselesaikan.
One Health dikenal sebagai kesehatan manusia, hewan dan ekosistem yang saling terkoneksi diantara ketiganya dan sektor lain yang terkait. Hal ini meliputi pendekatan yang mengedepankan kooperasi, koordinasi, komunikasi, kolaborasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia interdisiplin (transdisciplinary) dan antar sektoral (cross sectoral) untuk mengantisipasi potensi atau risiko dan mengendalikan zoonosis yang berasal dari interface antara hewan/satwa – manusia – ekosistem serta masalah kesehatan kompleks lainnya. Upaya penanggulangan yang dapat dilakukan terbagi ke dalam 4 tahapan, yaitu; identifikasi, deteksi, pencegahan, dan respon. Kolaborasi interdisipliner, lintas sektoral, dan lintas wilayah untuk memberikan peringatan dini wabah EID, dan hal ini dapat dicapai dengan berfokus pada jalur penularan hewan ke manusia untuk menghentikan penyebaran patogen dan berkembangnya epidemi .
Dampak Perubahan Iklim dan Suhu
Perubahan iklim memberikan efek sangat luas bagi beragam aspek kehidupan makhluk hidup. Teruma kesehatan manusia, hewan, dan keberlangsungan lingkungan. Peningkatan suhu terbukti memperparah masalah pernapasan akibat perubahan kadar ozon, sekaligus memicu muncul dan munculnya kembali penyakit menular yang ditularkan vektor, seperti malaria dan demam berdarah. Tak hanya itu, perubahan iklim juga mengancam ketahanan pangan. Produktivitas pertanian menurun, lahan subur semakin berkurang, dan harga pangan menjadi tidak stabil. Ketahanan pangan yang terganggu akan berdampak langsung pada status gizi masyarakat dan hewan.
Pada tahun 2024, Kota Malang mencatat lonjakan drastis kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga 905 kasus dalam tiga bulan dengan 10 kematian. Selain itu, pada November 2023, serangan kelelawar Pteropus vampyrus ke perkebunan warga di Kalimantan Barat merusak berbagai varietas buah dan dikhawatirkan membawa virus zoonosis yang berpotensi menyebar lintas pulau. Pendekatan One Health dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sangat penting. Melalui kolaborasi lintas sektor, riset, serta kesadaran masyarakat, pendekatan One Health diharapkan mampu menjadi solusi nyata untuk mengurangi kerugian ekonomi, mencegah penyebaran penyakit zoonosis, dan menjaga keberlanjutan sumber daya pangan di masa depan.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Avicena C. Nisa
