BERITA SIKIA – Rangkaian Airlangga Climate Fest International Webinar Series 2022 yang berlangsung daring di ruang sidang kampus Giri pada Senin (20/11/2022), Sabtu (26/11/2022), dan Minggu (27/11/2022). AIRMATE FEST secara langsung mengajak peserta webinar ikut mengambil langkah nyata mencegah perubahan iklim. Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam Universitas Airlangga turut mendukung tujuan
Materi disampaiakan oleh narasumber ahli diantaranya: Ella Lovianti, S.Hut, MM (Manager of Forest Ecosystem (Associate Expert) in Indonesian Ministry of Environment and Forestry), Andy Bahari (Leader of World Cleanup Day Indonesia), Nur An-Nisa Milyana (Senior Officer of Climate Change and Water at Dutch Embassy), Eleni Iacovidou from Brunel University London, oleh Shamsul Bahrin Gulam Ali (Senior Lecturer of Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia), dan Nungky Rosalina (Administrator of TPS 3R Muncar)
Mengurangi jejak karbon
Webinar yang berlangsung tiga hari tersebut disampaikan salah satu penyebab perubahan iklim adalah meningkatnya emisi karbon. Mengurangi jejak karbon menjadi cara efektif mencegah perubahan iklim di masa mendatang. Mengurangi jejak karbon dapat dilakukan dengan cara menghemat energi yang kita gunakan seperti dengan mematikan lampu yang tidak digunakan, dan melakukan pengelolaan sampah sederhana secara mandiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Sebagai akademisi secara khusus, kita dapat meningkatkan kesadaran orang sekitar, misalnya dengan menyebarkan informasi terkait perubahan iklim yang telah kita terima dan/atau kaji melalui media sosial maupun media lainnya. Meski demikian, dalam penanganan perubahan iklim, kita tidak bisa bergerak seorang diri. Kolaborasi dan kerjasama dengan seluruh elemen masyarakat dan stakeholder terkait memiliki peran yang penting dalam sukses tidaknya penanganan perubahan iklim.
Pemerintah, industri, pelaku bisnis, akademisi, peneliti, serta masyarakat umum yang sepakat dalam penanganan perubahan iklim tidak hanya mampu membuat komitmen dan kebijakan yang berpihak pada lingkungan serta upaya mitigasi perubahan iklim, namun juga aksi dan hasil nyata dari komitmen dan kebijakan itu sendiri.
Perubahan iklim dari berbagai sektor
Kegiatan alih fungsi lahan, penebangan dan perusakan hutan dalam skala luas, berpengaruh besar secara langsung maupun tidak langsung terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Reboisasi menjadi cara mengembalikan kelestarian hutan. Pohon dapat menyerap karbon dan melepaskan O2 ke udara melalui proses fotosintesis.
Bidang pertanian berpotensi menjadi sumber emisi karbon. Kegiatan pembakaran sisa hasil pertanian, pelepasan gas N2O dari aktifitas pemupukan, dan CO2 dari proses respirasi tanaman dan dekomposisi (pelapukan) turut menyumbang jumlah karbon yang terlepas ke udara. Hal tersebut dapat dicegah dengan penggunaan pupuk organik untuk peningkatan simpanan karbon dalam tanah.
Aktifitas industri dan penggunaan produk industri juga meninggalkan jejak karbon dalam setiap prosesnya. Emisi yang dihasilkan dari reaksi kimia dan fisika menghasilkan zat sisa yang diklasifikasikan sebagai emisi gas rumah kaca. Mitigasi dari sektor industri adalah melaksanakan alih teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.
Di sektor energi penggunaan bahan bakar yang bersumber dari fosil, seperti: minyak bumi, batu bara, gas bumi, serta industri semen, menghasilkan CO (Karbon monoksida), CO2 (Karbon Dioksida), NO (Nitrogen oksida) dan HC (Hidro karbon) yang turut meningkatkan suhu permukaan bumi. Banyaknya gas emisi yang dihasilkan karena proses pembakaran tidak sempurna. Aksi mitigasi sektor energi dapat dilakukan dengan cara penghematan energi atau konservasi energi, dan diversifikasi energi atau penggantian bahan bakar fosil dengan sumber energi lain dengan emisi zero carbon
Penulis: Muhammad Ridwan
Editor: Acn
