KABAR FIKKIA – Transfer pengetahuan antara Fakultas Ilmu Kesehatan Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga dan eFishery terus berlanjut. Ikatan kerjasama yang terjalin melalui Prodi Akuakultur menghasilkan penyelenggaraan kuliah tamu secara berkala. Kali ini giliran mahasiswa semester 4 yang berkesempatan menggali teknik pembenihan dengan praktisi ahli. Sangga Sulistyo Suhartono, S.Pi., selaku Data and Technical Capability Manager eFishery membagikan ilmu serta pengalamannya dalam dunia budidaya udang. Kegiatan ini tepat dilaksanakan pada hari Sabtu (11/05/2024) di kelas G.102 Kampus Giri FIKKIA.

Kuliah tamu yang terintegrasi dengan mata kuliah Teknologi Pembenihan ini, Sangga membahas mengenai serangkaian aktivitas wajib yang ada di suatu hatchery udang. Beliau membuka kuliah dengan mengingatkan mahasiswa mengenai siklus hidup udang yang terdiri dari telur, Naupli, Zoea, Mysis, Post Larvae (PL), Juvenil hingga udang dewasa.
Baca juga: Manager eFishery Bahas Pentingnya Pakan Berkualitas dalam Budidaya Ikan dan Udang
“Pembenihan merupakan kegiatan budidaya yang meliputi proses seleksi induk hingga menghasilkan benur yang siap ditebar (post larva),” ungkapnya.
Penyediaan Broodstock dimulai dengan seleksi induk – pembesaran induk – pemijahan – pelepasan telur – penetasan (naupli). Seleksi induk mencakup seleksi fenotipe (ciri fisik), genotipe (ciri genetik), dan lingkungan (uji performa dalam kondisi tertentu).
Kriteria Indukan Udang dan Benih yang Ideal
Indukan yang ideal memiliki ciri yaitu usia minimal 6 bulan, anggota tubuh lengkap, lolos uji PCR (Polymerase Chain Reaction), dan bebas parasit. Pakan indukan udang yang disarankan untuk udang yaitu jenis cacing laut, cumi-cumi, pelet, dan kerang-kerangan. Benih yang baru menetas dari telur masih lemah sehingga sangat rentan. Pemisahan cangkang telur dengan benih dilakukan dengan memberikan lampu di atas bak penampungan.

Benih yang sehat akan mendekati cahaya karena memiliki sifat fototaktif positif yaitu membutuhkan sinar/ cahaya, sedangkan benih yang sakit tidak mendekati cahaya. Pengecekan kelengkapan anggota tubuh dapat dilakukan menggunakan mikroskop. Seleksi benur yang digunakan pada fase pembesaran haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut. Usia 10-12 hari setelah penetasan; Panjang berkisar 8-9 mm; aktif, responsif, berenang melawan arus, dan tidak bergerombol; bebas pathogen; lokasi pembenihan memiliki sertifikat; dan tidak terdapat banyak kematian bahkan nol.
Hingga akhir acara, antusias mahasiswa dalam kegiatan ini tidak kendur terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan di akhir sesi. Salah satunya pertanyaan mengenai cara pembeli benih mendapatkan benih pada fase pertumbuhan yang optimal.
Beliau menambahkan bahwa semua stadia mengalami pertumbuhan. Tapi di hatchery terdapat golongan benih (resisten, fast growth, dan balance). Trik dalam budidaya memilih golongan yang sesuai dengan ekosistem sekitar.
“Contohnya di Banyuwangi yang zona merah (banyak penyakit), maka harus memilih strain yang harus yang resisten terhadap penyakit,” pungkasnya menanggapi pertanyaan tersebut.
Penulis: Ijl Taqiy Christya Dewanta Arthur Archiles
Editor: Avicena C. Nisa
