KABAR FIKKIA – Fakultas Kedokteran Hewan dan Ilmu Kesehatan Hewan (FIKKIA) Universitas Airlangga menggelar Lokakarya Nasional APARVI (Asosiasi Parasitologi Veteriner Indonesia) pada Kamis (30/10/ 2025), di Aula Kampus Mojo FIKKIA UNAIR. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara asosiasi profesi dan universitas dalam upaya memperkuat sinergi di bidang pendidikan parasitologi veteriner di Indonesia.
Lokakarya dihadiri oleh puluhan dosen parasitologi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Selain tuan rumah FIKKIA UNAIR, peserta juga berasal dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Universitas Brawijaya (UB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Riau (UNRI), Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Udayana (UNUD), serta Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FIKKIA UNAIR, Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp. BS (K). Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan.
“Pertemuan kita pagi ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antar perguruan tinggi dan asosiasi profesi dalam memajukan pendidikan kedokteran hewan.” Ungkap dokter Spesialis Bedah Syaraf tersebut.
FIKKIA UNAIR merasa terhormat menjadi tuan rumah kegiatan strategis ini. Diskusi yang dilakukan merupakan langkah penting untuk menyamakan persepsi dalam pengembangan kurikulum. Dengan demikian, seluruh fakultas kedokteran hewan di Indonesia memiliki arah dan standar yang sama dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan global.
“Melalui kolaborasi dan diskusi seperti ini, kita dapat memperkuat fondasi pendidikan veteriner yang berorientasi pada mutu, profesionalisme, dan kemajuan ilmu pengetahuan.” tambah Dr. Rahadian
Urgensi Parasitologi Veteriner
Agenda utama lokakarya adalah diskusi tentang penyamaan kurikulum di bidang parasitologi veteriner. Mencakup didalamnya program sarjana (S1) dan Program Profesi Dokter Hewan (PPDH). Parasitologi merupakan cabang ilmu dasar yang berperan besar dalam kemampuan seorang dokter hewan dalam mendiagnosis penyakit parasitik. Oleh karena itu, Ketua APARVI, Dr. Mufasirin, drh., M.Si., menekankan bahwa diskusi topik ini menjadi penting dilakukan.
“Untuk kurikulum S1, seluruh anggota dapat sepakat mengenai materi yang diajarkan. Namun, untuk kurikulum PPDH masih memerlukan penyesuaian karena proses pembelajarannya berbeda di tiap universitas,” jelas Dr. Mufasirin.
“Tetapi secara garis besar, output kurikulum PPDH itu sama, yaitu dapat mendiagnosa penyakit parasitik,” lanjutnya.
Selain membahas penyelarasan kurikulum, peserta juga mendiskusikan berbagai inovasi pembelajaran. Termasuk pendekatan berbasis kasus, integrasi teori dengan praktik, dan pemanfaatan teknologi digital dalam proses belajar mengajar.
Melalui lokakarya ini, diharapkan muncul rekomendasi nasional yang dapat dijadikan acuan bagi seluruh institusi pendidikan kedokteran hewan di Indonesia. Maka, pembelajaran parasitologi veteriner dapat berjalan lebih efektif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Penulis: Hanifa Khansa Khairunnisa
Editor: Avicena C. Nisa
