KABAR FIKKIA – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) hadir kembali pada Sabtu (12/07/2025) di Lapangan Blambangan. Tahun ini menjadi panggung istimewa bagi Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga. FIKKIA untuk pertama kalinya ambil bagian dengan mengirim talent berbakatnya Bryna Wahyu Candra Dewi (KESMAS 23). Mahasiswa semester empat itu tampil mengenakan kostum buah naga dengan warna pink ceria. FIKKIA UNAIR berhasil mencuri perhatian penonton lewat konsep unik yang menggabungkan nilai budaya dan pesan kesehatan.
BEC 2025 mengusung tema NGELUKAT yang mengangkat tradisi penyucian diri masyarakat Osing. Tema tersebut terbagi lagi menjadi beberapa sub tema meliputi mudun lemah, selapan, sunatan, lamaran, nikahan dan mitoni. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani dalam pembukaannya menyebut, ngelukat tak sekedar ritual, tetapi warisan budaya yang menyatu dalam kehidupan manusia, pencipta, alam, dan pendahulunya.
“Setiap tradisi itu menghubungkan manusia dengan Tuhan, alam, dan leluhurnya. Ngelukat bukan sekedar ritual. Tapi juga simpul budaya dan spiritual yang menyatu dalam kehidupan manusia” tuturnya dihadapan tamu undangan dan perwakilan yang hadir.
Uniknya BEC terpilih kembali dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) karena berhasil mengangkat kekuatan lokal, yang berdampak positif terhadap budaya, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat. Hadir dalam turut dihadiri Gubernur Jawa Timur, Konjen Jepang Surabaya, perwakilan dari Kementerian Pariwisata, Menko Bidang Pangan, dan sejumlah tamu undangan kebupaten sahabat.
Buah Naga, Potensi Lokal, dan Kesehatan
Buah Naga dikenal sebagai buah yang kaya gizi dan antioksidan. Buah bernama latin Hylocereus undatus itu merupakan komoditas pertanian unggulan daerah Banyuwangi Selatan. Warna merah muda menyala dengan sentuhan hijau daun di kepala maskot menggambarkan energi segar, semangat muda, dan inovasi yang menjadi ciri khas mahasiswa. Kombinasi elemen artistic penampilan maskot ini menjadi representasi dari sinergi budaya dan kesehatan.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas saat parade berlangsung. Banyak anak-anak hingga orang dewasa berebut untuk berfoto dan bersalaman dengan maskot. Sementara masyarakat umum menunjukkan rasa bangga terhadap keikutsertaan perguruan tinggi dalam ajang budaya daerah. Interaksi yang hangat ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya bisa menyatu dengan dunia pendidikan secara harmonis.
“Mewakili FIKKIA UNAIR di BEC adalah kehormatan besar dan pengalaman luar biasa. Kostum bukan hanya pakaian atau seni visual saja, tetapi juga bisa menjadi media komunikasi kesehatan pada masyarakat.” ujarnya.
Penampilan perdana FIKKIA UNAIR berhasil menghadirkan warna baru dalam BEC. Partisipasi ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi tidak hanya berperan dalam ruang akademik, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam pelestarian budaya. Semangat ngelukat, pensucian dan pembaruan diri terasa hidup dalam langkah-langkah mahasiswa yang membawa pesan perubahan.
Penulis: Uni Eska Mahmudi
Editor: Avicena C. Nisa
