FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Belajar Pelestarian Lingkungan Bersama Masyarakat Pulau Santen Banyuwangi

KABAR FIKKIA – World University Association for Community Development (WUACD) kembali melanjutkan rangkaian kegiatannya pada hari kedelapan. Pada Kamis, (14/11/2024) mahasiswa diajak untuk fokus pada isu konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Pulau Santen. Acara melibatkan berbagai pihak, diantaranya tim PPK Ormawa Komikat Konservasi dan Pecinta Alam, Tim NYUBRICK, mahasiswa Kedokteran Hewan Angkatan 2024 FIKKIA UNAIR, mahasiswa UMT, serta masyarakat setempat. Kegiatan yang dilakukan cukup beragam, ada kegiatan edukasi konservasi, praktik pembuatan ecorint, dan penanaman cemara udang. 

Ketua pelaksana, Muhammad Farel Fikriansyah, (KH 2024) menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Termasuk mahasiswa Universiti Malaysia Terengganu (UMT) yang turut berkolaborasi. Dalam sambutannya, Farel menegaskan tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan dan melestarikan lingkungan. Selain itu, Ia juga mengungkapkan antusiasnya pada kegiatan hari ini.

 “Saya senang mendapatkan pengalaman baru karena sebelumnya belum pernah keluar negri atau ngobrol dengan orang luar negri. Dan sekarang kita mendapat kesempatan bisa berinteraksi dengan mereka lebih dekat layaknya teman sebaya dan bisa menambah relasi juga.” ujarnya. 

Kegiatan Bersih Pantai dan Penanaman Cemara Udang

Sesi pertama dimulai dengan pembahasan tentang pengelolaan sampah, bank sampah, dan TPS 3R oleh PT. Systemiq Lestari Indonesia. Setelah itu, peserta terlibat langsung dalam aksi bersih pantai dan penanaman pohon cemara sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan. 

Peserta menyebar untuk melakukan bersih pantai. Foto: Penulis

Sesi berikutnya adalah demonstrasi ecoprint yang dipandu oleh Desy Darmawati Setyaning Utami, Wakil Ketua Eco Laku Lestari. Para peserta yang terdiri dari tim PPK, mahasiswa dan masyarakat dibagi dalam kelompok kecil untuk menghias kantong kain menggunakan dedaunan sebagai pembuat pola. Daun yang diperoleh berasal dari tanaman sekitar, seperti pohon santen, pepaya jepang, dan sirih bumi yang menghasilkan cetak hujau segar di media kain. Aktivitas ini tidak hanya memberi kesan seni, tetapi juga pengalaman langsung kepada peserta tentang potensi limbah organik. 

Peserta dengan semangat memukul-mukul daun untuk memunculkan cetak pola mengikuti bentuk daun. Foto: Penulis

Sesi diskusi tentang konservasi penyu yang dibawakan oleh Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) menjadi puncak kegiatan di Pulau Santen. Para peserta juga mengikuti tour ke Green House untuk mempelajari teknologi Intan Box, inovasi yang mendukung pelestarian penyu tanpa penggunaan plastik. 

Salah satu mahasiswa UMT, Nur Sabrina Afiqah, menyatakan kekagumannya terhadap materi yang diberikan. “Jadi kita sangat impress lah melihat inovasi telah dilaksanakan untuk pembiakan turtle tu sendiri tanpa penggunaan plastic, karena di Malaysia tu saya rasa tiada lagi. Itu pertama kali kita lihat di pulau Santen. Dan apa kite dapat ialah tumbuhan bisa dijadikan art dalam ecoprint. So, it is nice education” ungkapnya. 

Penanaman cemara udang di sisi utara Pulau Santen. Foto: Penulis

Beragam kegiatan yang inspiratif WUACD hari kedelapan membuktikan bahwa kolaborasi mahasiswa lintas negara mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan memberdayakan masyarakat, sekaligus membangun komunitas global yang lebih baik.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke 15 – Life on Land dan ke-17 Partnership for the Goals.

Penulis: Uni Eska Mahmudi
Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *