KABAR FIKKIA – Menjadi mahasiswa erat kaitannya dengan kegiatan tulis menulis dan kajian akademik. Membuat warta sederhana dapat menjadi wadah melatih kerangka berpikir yang sistematis. Melanjutkan kesuksesan Sekolah Jurnalistik I dengan menghadirkan Raka Raki Jawa Timur 2021. BEM KM Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR mengadakan kembali Sekolah Jurnalistik II pada Sabtu (25/11/2023) secara hibrid. Sekolah Jurnalistik II dihadiri oleh 65 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan siswa seluruh SMA di Banyuwangi. Dalam kelas kali ini peserta belajar bagaimana menulis berita yang baik dan benar sesuai kaidah jurnalistik.
Baca juga: BEM KM FIKKIA UNAIR Hadirkan Raka Jatim 2021 di Kelas Public Speaking
Hadir langsung di FIKKIA, Gerda Sukarno Prayudha, S,Kom sebagai pembicara materi jurnalistik. Beliau merupakan Manajer Event dan Digital Radar Banyuwangi. Dipandu oleh moderator andalan FIKKIA, Oktario Dinansa Khoir (Kesehatan Masyarakat 2021) membuat suasana kelas jurnalistik berjalan kondusif dan interaktif.
Pahami proses jurnalisme berita.
Gerda menjelaskan berita merupakan sekumpulan informasi yang didapat oleh wartawan. Informasi tersebut selanjutnya dikemas menjadi satu melalui proses jurnalis dan disebarluaskan ke media massa.
Terdapat unsur utama yang harus dipenuhi setiap artikel untuk dapat dikategorikan sebagai berita. Setiap pemberitaan minimal memiliki komponen 5W+1H agar pembaca dapat menerima informasi secara utuh. Berdasarkan jenisnya, berita dikelompokkan menjadi 4 meliputi straight news (peristiwa yang disampaikan singkat), indepth news (inovasi berita yang sudah ada), soft news (berita santai), dan feature news (memiliki tujuan menggugah emosi).
Gerda menegaskan bahasa yang digunakan penulisan berita harus mudah dicerna, lugas, dan meminimalkan penggunaan bahasa asing. Penulis harus memperhatikan penggunaan huruf kapital, garis miring, dan pemilihan kosakata maupun diksi yang menjadi penyerta kalimat.
Menganalisa sumber berita palsu
Hadirnya teknologi dan pergeseran peran media sosial sebagai sumber berita membuka kesempatan bagi semua orang untuk menjadi pewarta. Masyarakat internet dengan mudah menulis dan membagikan informasi. Terkadang informasi tersebut mengandung sedikit informasi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman. Tipe berita seperti ini dikenal masyarakat dengan nama berita hoax.
“Semakin berkembangnya teknologi maka semakin banyak beredar berita secara online, salah satu dampak negatif dari hal tersebut adalah beredarnya berita hoax atau berita palsu. Bagaimana cara mengetahui jika itu berita palsu?” tanya salah satu peserta
Gerda menyarankan agar pembaca selalu melakukan konfirmasi ulang. Memeriksa kebenaran berita melalui situs website atau akun resmi yang kredibel dan dapat dipercaya.
Selain itu, berita palsu sering dibuat untuk menimbulkan kontoversi. Bahasa dan kalimat yang digunakan cenderung hiperbola (berlebihan) dan memancing emosi negatif pembaca. Oleh karena itu sebagai pembaca ikut berpikir kritis, tidak mudah percaya, dan selalu mencari sumber informasi lain sebagai perbandingan.
Penulis: Fira Nursyah
Editor: Avicena C. Nisa
