FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

BEM KM FIKKIA UNAIR Hadirkan Raka Jatim 2021 di Kelas Public Speaking

KABAR FIKKIA – Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Public speaking membutuhkan rasa percaya diri, agar informasi tersampaikan dengan lancar dan dapat diterima masyarakat. Memupuk rasa percaya diri tersebut BEM KM Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR membuka program kerja Sekolah Jurnalistik I.  Kelas public speaking pertama diadakan pada Minggu (19/11/2023) secara hybrid. 60 peserta dari kalangan mahasiswa dan SMA di Banyuwangi hadir di FIKKIA Kampus Giri dan melalui zoom meeting.

Mohammad Noor Addin Izlah S.E selaku Raka Raki Jawa Timur Tahun 2021 dihadirkan secara offline sebagai pemateri. Turut diundang juga moderator kebanggan FIKIA UNAIR, Midori Autake (Kesehatan Masyarakat 2020) yang telah tampil diberbagai event dan kesempatan.

Pembukaan Sekolah Jurnalistik I di ruang zoom. Sumber: Penulis

Dalam presentasinya, Addin Izlah menjelaskan bahwa public speaking berawal dari titik terkecil. Hal ini merupakan suatu bentuk komunikasi dimana seorang pembicara menghadapi pendengar dalam jumlah yang relatif banyak atau besar dengan pembicaraan yang relatif kontinyu. Kemampuan berbicara didepan banyak orang bertujuan menyampaikan informasi kepada audiens. Duta pariwisata Jawa Timur tersebut menambahkan, manfaat lain public speaking adalah untuk  menghibur, mempengaruhi, dan mengurangi ketidaktahuan audiens. Ia menjelaskan public speaking yang baik dapat mengurangi tekanan, memperbaiki hubungan, memahami permasalahan, dan menyelesaikan masalah.

Selain itu, tentunya terdapat elemen penting dalam proses public speaking ini, meliputi memahami karakter audiens, persiapan materi yang menarik, menyampaikan materi dengan yakin, dan melakukan kontrol lingkungan dengan terbiasa menjadi pusat perhatian.

Cara penyampaian kepada public bisa dilakukan berdasarkan kronologis. Runtut mulai dari pembukaan, isi, dan penutup. Gaya yang lain dapat menggunakan skema piramida terbaik, menyampaikan hal yang sifatnya general lalu mengerucut kepada inti pembicaraan.

Menjadi presentator tidak hanya tentang bagaimana meyakinkan audiens. Lebih dari itu, juga tentang bagaimana membangun suasana agar tidak membosankan dan terjadi interaksi positif dengan audiens. Pertanyaan inilah yang dilontarkan peserta saat sesi tanya jawab.

“Bagaimana cara agar audiens tidak bosan dalam penyampaian materi?” tanya salah satu peserta

Pemuda alumni UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tersebut menjawab dengan yakin. Menghilangkan kebosanan audiens menggunakan apa yang disebut ice breaking.

“Hal tersebut bisa diselipkan suatu analogi, humor, tebakan, dan pantun. Selain itu juga jangan terlalu banyak mikir, cukup lakukan evaluasi, perbanyak insight, dan sering praktik juga (pidato, diskusi, presentasi)” ujar Addin selaku pemateri.

Pesan terakhir yang diberikan oleh pemateri kepada peserta adalah untuk tidak malu bertanya jika ada sesuatu yang dirasa kurang jelas. Kedepannya kemampuan public speaking ini akan berguna dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis: Raket Wonggo Murgiya

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *