FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Cek Kesehatan Kambing Desa Telemung Bersama Kedokteran Hewan FIKKIA dan College of Veterinary Medicine CMU

KABAR FIKKIA – Selasa (23/04/2023) Kegiatan hari ke-2 mahasiswa outbond College of Veterinary Medicine, Central Mindanao University (CMU) dilajutkan dengan mengunjungi sentra susu kambing di Desa Telemung, Kalipuro. Desa Telemung merupakan bagian dari desa binaan Prodi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR. Dipandu Amung Logam Saputro drh., M.Si dan mahasiswa kedokteran hewan semester 4, mencoba beragam aktivitas selayaknya menjadi peternak. Mulai dari menyiapkan pakan, perawatan kesehatan ternak, memerah susu, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan ternak.

Berbaur dengan masyarakat desa, peserta diajak berinteraksi langsung kambing etawa yang dipelihara oleh kelompok ternak. Mereka mencoba mesin pencacah rumput untuk pakan, memberi makan kambing, dan memberi susu pada anak kambing yang baru lahir.

Dokter Amung menjelaskan, tantangan sentra peternakan kambing etawa yang berfokus pada produksi susu adalah volume susu yang terbatas. Minimnya volume susu yang dihasilkan diakibatkan oleh beberapa factor, salah satunya adalah mastitis sub klinis. Meskipun tidak berbahaya secara fisik, mastitis sub klinis berdampak pada penurunan produksi dan kualitas susu.

Identifikasi sampel ke laboratorium terpadu

Mahasiswa mengambil langsung sampel susu untuk dilakukan California Mastitis Test (CMT). Hasil uji sampel positif yang dilesatkan di media agar tumbuh dan dilakukan isolasi identifikasi di laboratorium untuk mengetahui bakteri penyebabnya. Fokus yang diambil pada satu bakteri yaitu Staphylococcus aureus.

Setelah ditetapkan jenis bakteri, kemudian dilakukan uji sensitivitas. Hal ini diperlukan sejalan dengan isu yang diangkat seputar Antimicrobial Resistance (AMR) yaitu kondisi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, fungi, dan parasit menjadi resisten atau kebal terhadap antimikroba (antibiotik, antiviral, antifungal, dan antiparasit).

Penanaman bakteri ke media agar. Sumber: Panitia

Di hari berikutnya, peserta dibimbing untuk melakukan Uji PCR (Polymerase Chain Reaction) molekuler di Laboratorium. Bakteri yang telah tumbuh di hari pertama, dilakukan uji untuk mengidentifikasi gen penyandi resisten. Hasilnya, dari 5 sampel diperoleh 2 sampel yang terdeteksi memiliki gen penyandi molekuler terhadap metisilin resisten Staphylococcus aureus (MRSA).

Output yang didapatkan dari penelitian ini berupa laporan yang akan diberikan kepada kelompok ternak. Sehingga langkah-langkah preventif dapat dilakukan agar bakteri tidak tersebar luas. Menjaga kebersihan diri (pemerah), ambing, dan alat perah adalah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran mastitis sub klinis.

Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land.

Penulis: Uni Eska Mahmudi

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *