FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Update Trypanosoma Evansi, Kedokteran Hewan SIKIA UNAIR Undang Dosen Tamu dari BRIN

BERITA SIKIA – Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Unair kembali mengadakan kuliah tamu pada hari Selasa, 20 September 2022. Kuliah tamu Program Studi Kedokteran Hewan kali ini mengundang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN bertugas mengembangkan riset dan inovasi di Indonesia, serta melakukan diseminasi hasil riset yang telah dilakukan kepada masyarakat. Kuliah tamu menjadi wadah transfer pengetahuan yang telah diperoleh BRIN kepada masyarakat, termasuk mahasiswa.

April Hari Wardhana, S. KH, M.Si, Ph.D dihadirkan menjadi dosen tamu di mata kuliah Parasitologi Veteriner bersama, Aditya Yudhana, drh., M.Si. selaku dosen pengajar. Beliau saat ini aktif sebagai peneliti BRIN yang mendalami bidang parasitologi dan mikologi veteriner. Mengambil topik Trypanosoma evansi yang ada di Indonesia, kedatangan doktor April menjadi dosen tamu yang ditunggu mahasiswa di SIKIA.

Pada kuliah tamu ini doktor April memaparkan tentang penyebaran penyakit Trypanosoma di Indonesia. Diketahui sebelumnya,  Trypanosoma adalah parasit protozoa yang menimbulkan bahaya kesehatan dan mengakibatkan kerusakan parah pada sistem organ hewan dan manusia. Artinya Trypanosoma bersifat zoonosis atau dapat menular dari hewan ke manusia. Kerusakan sistem organ menyebabkan gangguan pertumbuhan, gangguan reproduksi, dan yang paling fatal adalah kematian hewan ternak itu sendiri.

Identifikasi Trypanosoma dengan mikroskop oleh doktor April

Salah satu penyakit yang muncul akibat Trypanosoma adalah Trypanosomiasis atau di Indonesia sering dikenal sebagai penyakit surra. Surra merupakan penyakit endemik Asia Tenggara, namun memiliki ciri khas tertentu di masing-masing negara.

Selama ini hewan ternak di Indonesia belum bebas dari surra. Hewan ternak yang terjangkit surra berpotensi menjadi induk semang. Surra menyebar melalui tikus dan lalat yang membawa sebaran parasite Trypanosoma spp.

Melihat potensi bahaya surra yang akut bagi hewan dan manusia, peran dokter hewan dibutuhkan untuk menekan penyebaran parasite tersebut.

Selain diberi materi tentang apa itu Trypanosoma, calon dokter hewan SIKIA juga diajarkan bagaimana cara membuat ulas darah. Ulas darah yang telah dibuat kemudian dikeringanginkan, untuk selanjutnya dilihat dibawah mikroskop. Pada darah hewan yang terinfeksi, keberadaan Trypanosoma terlihat berbentuk pipih memanjang diantara sel darah merah. Cara ini digunakan untuk mengidentifikasi apakah hewan ternak tersebut terinfeksi Trypanosoma spp.

Bentuk Trypanosoma panjang dan pipih.
Sumber : Researchgate

Mahasiswa juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mengulas lebih banyak kasus Trypanosoma kepada ahlinya. Pertanyaan menarik datang dari Azhar, mahasiswa yang bertanya tentang manajemen pencegahan penyebaran dan pengendalian hewan pembawa atau vektor.

“Apakah bisa metode Projek Wolbachia diadaptasi dalam mengendalikan parasitnya seperti dalam pengendalian DBD?” tanya Azhar

Menjawab pertanyaan tersebut, doktor April menjelaskan bahwa belum ada manajemen yang dapat menekan penyebaran parasite Trypanosoma spp. sepenuhnya.  Metode pencegahan terkini yang dikembangkan oleh Amerika mengunakan lalat pasir belum cukup efektif diterapkan pada lalat biasa.

Diakhir acara beliau menyampaikan senang dapat berbagi ilmu dan pengetahuan dengan mahasiswa Kedokteran Hewan di SIKIA. Menurutnya, salah satu indikator keberhasilan pembelajaran adalah peran aktif mahasiswa yang bertanya. Antusias belajar tumbuh ketika keingintahuan ada dan mendorong mahasiswa berfikir kritis sehingga lahir ide serta inovasi yang menjadi jawaban tantangan perkembangan veteriner saat ini.

Penulis : Gusti Ayu Illiyin Putri Santosa

Editor : Choirun Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *