
Kita bisa menunda belanja bahkan menahan lapar seharian. Tapi tubuh manusia tidak bisa hidup tanpa darah yang terus mengalir. Ironisnya, saat seseorang sangat membutuhkan darah untuk bertahan hidup, stoknya sering tak tersedia. Ini kenyataan yang masih sering kita hadapi. Setiap harinya, ribuan pasien di Indonesia memerlukan transfusi darah. Berdasarkan laporan WHO, satu dari tujuh pasien rumah sakit membutuhkan darah baik karena kecelakaan, operasi, perdarahan hebat setelah melahirkan, atau penyakit kronis seperti thalasemia dan anemia aplastik. Di Indonesia, kebutuhan darah mencapai 5,1 juta kantong per tahun. Namun menurut PMI (2023), stok nasional baru mampu memenuhi sekitar 90% dari
jumlah tersebut.
Bagaimana dengan Banyuwangi?
Dengan populasi lebih dari 1,7 juta jiwa, Banyuwangi membutuhkan 34.000 kantong darah per tahun. Pada 2024, UDD PMI Banyuwangi berhasil mengumpulkan 21.385 kantong, ini capaian yang baik, tetapi masih jauh dari target ideal. Per 28 Februari 2025, stok darah yang tersedia hanya 568 kantong, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu minggu. Padahal, setiap harinya dibutuhkan sekitar 60–70 kantong untuk pasien di berbagai rumah sakit. Faktanya, stok darah bisa menipis sewaktu-waktu, terutama saat bulan puasa, musim libur panjang, atau ketika peningkatan kasus DBD, kecelakaan, dan komplikasi kehamilan.
Ketika lonjakan kebutuhan datang, sistem distribusi darah yang masih bergantung pada jadwal tertentu tidak cukup responsif. Pernahkah Anda membayangkan seseorang kehilangan nyawa hanya karena tidak ada darah yang tersedia malam itu? Sayangnya, kejadian seperti ini masih terjadi, bahkan tanpa diketahui publik. Masalah keterbatasan darah bukan semata tanggung jawab PMI atau rumah sakit. Ini adalah persoalan bersama. Di Banyuwangi yang luas dan banyak wilayah yang terpencil, keberadaan stok darah bisa menentukan cepat atau tidaknya nyawa diselamatkan. Dalam situasi darurat, setiap detik sangat berharga.
Sistem harus mampu menjawab tantangan itu yaitu cepat, tanggap, dan terdistribusi. Dalam perspektif biomedik, darah bukan sekadar cairan merah yang mengalir dalam tubuh. Ia membawa oksigen, hormon, sistem imun, dan nutrisi ke seluruh tubuh. Setiap komponen darah memiliki fungsi penting yaitu sel darah merah untuk membawa oksigen, plasma untuk menyembuhkan luka dan mengatur tekanan osmotik, serta trombosit yang berperan dalam pembekuan darah.
Karena itu, pasien demam berdarah membutuhkan trombosit, pasien anemia membutuhkan sel darah merah, dan korban luka berat membutuhkan plasma. Melalui proses pemisahan di PMI, satu kantong darah bisa digunakan untuk tiga pasien berbeda. Ini fakta biologis yang nyata. Saat Anda mendonorkan darah, Anda tidak hanya menyumbang cairan, Anda sedang memberi kesempatan hidup.
Donor Itu Aman dan Menyehatkan
Sayangnya, banyak masyarakat belum memahami bahwa donor darah juga bermanfaat untuk tubuh pendonor. Donor darah dapat membantu menjaga kestabilan zat besi, merangsang regenerasi sel darah, dan menurunkan risiko hipertensi. Tentunya, sebelum mendonorkan darah, seseorang harus menjalani skrining awal untuk memastikan kondisi tubuhnya layak yaitu usia 17–60 tahun, berat badan minimal 45 kg, tekanan darah normal, kadar hemoglobin mencukupi (≥12,5 g/dl untuk wanita, ≥13 g/dl untuk pria), serta bebas dari infeksi aktif atau penyakit kronis.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Hari Donor Darah Sedunia adalah momen tepat untuk memulai gerakan nyata. Beberapa langkah yang bisa diterapkan di Banyuwangi antara lain:
- Edukasi kesehatan dan biomedik sejak dini di sekolah dan pesantren, agar generasimuda paham pentingnya darah bagi kehidupan.
- Mendirikan bank darah mini di Puskesmas prioritas, khususnya di daerah terpencil.
- Membuka akses digital stok darah PMI secara real-time, agar masyarakat tahu kapan dan di mana dibutuhkan.
- Donor darah adalah investasi jangka panjang bagi masyarakat, sistem kesehatan, dan keberlangsungan hidup sesama. Ketika anda mendonorkan darah, anda sedang memberi seseorang peluang untuk pulih, bernafas, dan bertahan hidup. Kita semua bagian dari solusinya.
Donor darah adalah investasi jangka panjang bagi masyarakat, sistem kesehatan, dan keberlangsungan hidup sesama. Ketika Anda mendonorkan darah, Anda sedang memberi seseorang peluang untuk pulih, bernafas, dan bertahan hidup. Kita semua bagian dari solusinya.
Darah Anda, Harapan Mereka: Setetes darah Anda hari ini, bisa menjadi kehidupan bagi mereka yang tengah berjuang. Mari jadikan donor darah budaya Banyuwangi: sehat untuk diri sendiri, hidup bagi orang lain.
Penulis: Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes. (Dosen Epidemiologi, Prodi Kesehatan Masyarakat, FIKKIA UNAIR)
Artikel telah terbit di kolom opini koran cetak Jawa Pos Radar Banyuwangi, Rabu Wage 11 Juni 2025, | Halaman 14
