KABAR FIKKIA – Hari Raya Idul Adha menjadi momen penuh berkah melalui pembagian daging kurban. Namun, di balik limpahan rezeki ini, ada tanggung jawab untuk mengolah dan mengonsumsi daging secara sehat dan bijak. Septa Indra Puspikawati, S.K.M M.P.H Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR), menjelaskan pentingnya literasi gizi dalam memilih, menyimpan, dan memasak daging kurban. Dengan kesadaran ini, manfaat daging bisa dirasakan tanpa menimbulkan risiko kesehatan di kemudian hari.
“Daging kurban memang tidak selalu dibagikan dalam bentuk yang sudah dipisahkan. Maka dari itu, kita sebagai penerima perlu bijak memilih mana yang baik untuk dikonsumsi, terutama jika ada risiko kesehatan tertentu dalam keluarga,” ujarnya.
Masak Daging dengan Cermat
Rendang menjadi hidangan favorit saat Idul Adha, namun teknik memasaknya perlu diperhatikan, terutama dalam penggunaan santan. Menurut Ibu Septa, santan yang dimasak lebih dari tiga menit dapat berubah menjadi lemak jenuh yang berbahaya bagi kesehatan jantung. “Cukup dimasak sebentar saja. Kalau bisa, gantilah dengan bahan seperti kemiri, fiber cream, atau bahkan tanpa santan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menghindari kebiasaan menghangatkan makanan bersantan secara berulang. “Lemak tidak jenuh dalam santan bisa berubah menjadi lemak jenuh jika terus dipanaskan. Itu tentu tidak baik bagi kesehatan, apalagi jika dikonsumsi rutin,” jelasnya.
Sebagai solusi, ia menyarankan agar memasak dalam porsi kecil sesuai kebutuhan keluarga. “Masaklah secukupnya, misalnya untuk satu kali makan keluarga. Jika ingin makan daging lagi, buatlah menu baru agar tidak perlu menghangatkan makanan yang sama berulang kali,” sarannya.
Perhatikan Metode Pengolahannya
Untuk menjaga kesehatan saat mengolah daging kurban, Ibu Septa mengingatkan pentingnya metode memasak dan penyimpanan yang tepat. “Metode seperti sate atau BBQ memang disukai banyak orang, tapi kalau gosong bisa menghasilkan senyawa karsinogenik yang berbahaya,” ujarnya.
Agar lebih aman, ia menyarankan merendam daging dalam nanas atau kiwi agar cepat empuk dan waktu pembakaran lebih singkat. “Hindari bagian gosong, dan kalau ada air fryer, itu bisa jadi pilihan yang lebih sehat,” tambahnya. Menumis dengan sedikit minyak dan bumbu segar juga bisa menjadi alternatif.
Dalam hal penyimpanan, Ibu Septa mengingatkan, “Jangan mencuci daging sebelum dibekukan, karena justru bisa menyebarkan bakteri ke permukaan lain.” Ia menyarankan cukup dilap dengan tisu bersih, lalu langsung disimpan di freezer. “Dan jangan biarkan daging di suhu ruang lebih dari dua jam,” tegasnya. Jika ingin dimasak, cairkan terlebih dahulu di chiller, bukan di suhu ruang.
Dengan pengolahan yang bijak, daging kurban benar-benar menjadi berkah, bukan ancaman kesehatan. “Idul Adha itu momen berbagi dan bersyukur, tapi jangan sampai salah kelola daging jadi bumerang untuk kesehatan,” tutpnya.
Penulis : Dheva Yudistira Maulana
Editor: Avicena C. Nisa

